Perang!!!


Tikus
Sumber: google.com dengan kata kunci: “tikus”

Perang! Ya, dini hari ini saya begitu bergelora untuk mengadakan perang. Melihat gambar di samping, pasti anda tahu dengan siapa saya ingin mengajak perang. Yups, anda benar! Tikus!

Lanjutkan membaca “Perang!!!”

Iklan

Kisah 1: Mencoba Menjadi Teladan


#Kisah 1

Mencoba Menjadi Teladan

Narasumber: Suci Latifah
Pewawancara: Anis Fikriyah
Penulis: Yusuf Muhammad
Editor: ??

Matahari tampak masih malu-malu menampakkan sinarnya di ufuk timur. Meski demikian, burung-burung sudah mulai beraktivitas mencari makan di awal hari. Kicauan burung yang merdu lengkap sudah menambah indah hari itu. Ya, kampus ini, Kampus Biodiversitas, adalah kampus yang terkenal dengan banyaknya keanekaragaman hayati. Dan pagi itu terlihat seorang akhwat1 begitu bersemangat berangkat ke suatu tempat.

Lanjutkan membaca “Kisah 1: Mencoba Menjadi Teladan”

Lava, Merapi, dan Nabi Daud as.


Oleh: Yusuf Muhammad1
1 Divisi PDD IYC 1435 H

IMG_0341
JARGON – Suasana di dalam ruangan menjadi riuh ketika mereka menirukan jargon IYC 1435 H, Ahad (22/6).

BOGOR – Ada apa dengan Islamic Youth Camp (IYC) tahun ini? Yuk, simak sebentar ulasannya. Tema umum IYC tahun ini spesial, yaitu “Liburan Penuh Arti Bersama Al-Quran dan Teknologi.” Kali ini Birena akan bercerita mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan oleh peserta IYC dari kegiatan awal hingga berakhirnya IYC 1435 H. Hari pertama dimulai tanggal 22 Juni 2014 dan bertempat di lingkungan Al-Hurriyyah IPB. Peserta tahun ini cukup banyak dibandingkan dengan lima tahun lalu, yaitu mencapai 108 orang pendaftar. Lanjutkan membaca “Lava, Merapi, dan Nabi Daud as.”

Derry Ferdani Rustanzi dalam Memori Birena


Oleh: Yusuf Muhammad1
1 Ketua Bidang PSDM Birena Al-Hurriyyah IPB 2014

Besarnya nama organisasi tentu tak lepas dari kinerja pengurusnya yang luar biasa. Salah satu pembina Birena inspiratif yang ingin saya ceritakan kali ini adalah Derry Ferdani Rustanzi. Beliau lahir di Majalengka pada tanggal 12 April 1992. Diterima di IPB pada pertengahan tahun 2010 di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan. Awal karir beliau di Birena dimulai pada tahun 2011 atau pada saat Birena masih termasuk departemen yang ada di LDK Al-Hurriyyah IPB. Lanjutkan membaca “Derry Ferdani Rustanzi dalam Memori Birena”

Kisah (Nyata) tentang Mereka yang Terbuang


Kisah ini ditulis berdasarkan cerita pengalaman teman, Azfar Reza Muqafa, dalam mabit ikhwan Birena, 22 Maret 2014.

~∧ ∧~

ali_011Hmm.. Mulai dari mana ya??

Oke, bismillahirrahmanirrahim..

Kisah ini diawali pada hari Ahad sore (atau malam??), 16 Maret 2014. Sayang sekali saya lupa di mana lokasi tepatnya kisah ini terjadi, hehe.. Saat itu sang tokoh utama__sebut saja Reza__sedang menaiki angkot menuju rumahnya. Seperti biasa kemacetan melanda sepanjang Jalan Raya Darmaga sore itu. Tak jauh dari tempat angkotnya tertahan (macet), tampak segerombolan anak jalanan terlihat panik. Sesuatu yang gawat sepertinya sedang terjadi. Lanjutkan membaca “Kisah (Nyata) tentang Mereka yang Terbuang”

Sebuah Identitas dan Pertanggungjawabannya


identitas

Jika berbicara tentang identitas, maka sebenarnya kita punya banyak identitas. Sejak lahir kita sudah membawa identitas keluarga. Kita membawa nama orang tua kita, saudara-saudara kita, bahkan terkadang kerabat maupun leluhur. Tak ayal, maka terkadang ketika kita melakukan kesalahan, orang lain tak hanya menilai diri kita pribadi. Nama keluarga pun bisa ikut tercoreng. Tak hanya identitas keluarga, sejak dalam kandungan kita juga membawa identitas suku dan bangsa. Islam memang tidak mengenal perbedaan suku ataupun bangsa, tapi di dunia saat ini yang diliputi oleh rasisme baik rasisme ekstrem maupun halus, identitas suku dan bangsa kerap menjadi perbandingan di masyarakat. Lanjutkan membaca “Sebuah Identitas dan Pertanggungjawabannya”

Surat Adik-adik kepada Presiden


Pendidikan dan yatim-piatu menjadi perhatian utama

BOGOR – Adik-adik Birena (Bimbingan Remaja dan Anak-anak) membuat surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ahad (24/3). Pembuatan surat tersebut dalam rangka kegiatan pembinaan pekanan berupa rupa-rupa. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemampuan adik-adik dalam menulis surat.

Derry Ferdani Rustanzi, mahasiswa Silvikultur IPB (20 tahun), menjadi penanggung jawab kegiatan. Beliau memberikan beberapa pilihan isi surat. Pilihan isi surat tersebut antara lain tentang pemeliharaan anak yatim-piatu; penjagaan anak dari kekerasan dan penindasan; pemberian mainan dan tempat bermain bagi anak; beasiswa bagi anak berprestasi; pendidikan gratis hingga perguruan tinggi; dan nasib anak-anak di perbatasan Indonesia.

Hasilnya sebanyak 36% dari 139 isi surat tertulis permohonan agar pendidikan digratiskan hingga perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan keinginan untuk meraih pendidikan pada adik-adik Birena sangat tinggi. Kedua terbesar adalah tentang kepedulian terhadap anak yatim-piatu, yaitu sebanyak 22%. Disusul tentang penjagaan anak terhadap kekerasan dan penindasan sebanyak 11%.

Sedangkan empat dari delapan adik yang menulis tentang beasiswa prestasi merasa tidak mendapatkan apresiasi meskipun berprestasi. Seperti yang terjadi pada Arif (V SD) dari Ciampea, Bogor. Dia menulis dalam suratnya bahwa meskipun dia juara II tapi tidak ada yang memberinya hadiah. Bahkan dia merasa teman-teman meliriknya dengan sebelah mata.

Sisanya sebanyak 4% menuliskan tentang kepedulian terhadap nasib anak-anak di perbatasan Indonesia. Tiga adik lainnya dengan polos meminta mainan dan tempat bermain kepada pak presiden. Dan hanya dua adik (1%), yaitu Gading Bahari (VI SD) dan Syaidah Nurul Maulida (VI SD), yang meminta pak presiden untuk memberantas korupsi. Meskipun di luar dari pilihan isi surat yang diberikan, tapi hal ini sangat membanggakan. Karena itu menandakan mereka memiliki kepedulian dan kesadaran yang tinggi terhadap kasus korupsi.

Hasil kegiatan penulisan surat cukup membanggakan, meskipun menuai sedikit kekecewaan. Masih terdapat 12% surat yang hanya berisi pengulangan contoh surat yang tertampang di papan tulis. Lebih menyedihkan lagi karena banyak adik yang kurang paham tersebut sudah kelas V dan VI. Selain itu, hampir sebagian besar penulisan surat belum sesuai EYD dan tata bahasa yang baik. Ini sedikit menandakan bahwa bangsa Indonesia ternyata belum menguasai bahasa nasionalnya sendiri.

Tulisan ini bisa menjadi sedikit cerminan dari kondisi anak bangsa. Harapan anak bangsa yang tinggi terhadap pendidikan haruslah dipertahankan. Begitu pula tentang kepedulian terhadap yatim-piatu. Masih kurangnya apresiasi terhadap prestasi menjadi “PR” bagi Indonesia. Mungkin masih banyak pula anak bangsa yang tidak tahu kabar saudaranya di wilayah perbatasan sana. Kurangnya penguasaan bahasa nasional juga menjadi keprihatinan tersendiri.

.                                                                                                                                              .

Yusuf Muhammad1

1| Badan Pengurus Harian Birena Al Hurriyyah IPB

Korespondensi: ibnuyakub.yusuf@gmail.com / 085724420880