Kisah Belakang Layar Pernikahanku dan Kisah Keberkahan Setelah Pernikahan


Berdasarkan permintaan salah satu adik kelas saya di organisasi, saya akan menceritakan bagaimana proses menikah saya dan sedikit cerita tentang hidup pasca pernikahan. Sebenarnya dulu beberapa teman blog juga sudah meminta saya bercerita, tapi pada akhirnya baru sekarang saya tergerak, hehe..

Alhamdulillah, saya berasal dari keluarga yang memiliki prinsip tidak berpacaran sebelum menikah. Abi-Ummi, kakak pertama, dan kakak ketiga saya menikah tanpa pacaran sebelumnya, begitu juga dengan saya dan istri.

Seperti yang pernah saya tulis di autobiografi saya, Abi dan Ummi menikah tanpa pacaran terlebih dahulu karena ingin menyempurnakan agama dan bisa sama-sama berjuang di jalan dakwah. Begitu pula dengan kakak pertama saya. Bahkan hebatnya saat kakak perempuan saya dilamar pada Selasa (20/07/2010) delapan tahun lalu, pernikahan (akad dan resepsi) dilaksanakan tidak sampai satu pekan setelahnya, yaitu pada hari Jumat (23/07/2010). Artinya hanya berjarak tiga hari. Kalau kakak perempuan saya yang ketiga agak menyimpan rasa sedih. Kakak dilamar sebelum Abi meninggal dan menikah setelah Abi meninggal. Abi meninggal pada 22 Mei 2016 lalu (bertepatan dengan peringatan Hari Biodiversitas), sedangkan kakak menikah pada 23 Juli 2016 (bertepatan dengan peringatan 6 tahun hari pernikahan kakak pertama).

Nah, perjalanan kisah pernikahan saya juga berawal dari kematian Abi. Jadi ketika Abi meninggal, datanglah teman lama Ummi bertakziyah ke rumah. Setelah menyampaikan doa, belasungkawa, dan beberapa obrolan, beliau bertanya kepada Ummi apakah saya sudah menikah atau belum. Awalnya Ummi mengira itu hanya pertanyaan biasa. Ternyata beberapa pekan setelahnya teman lama Ummi tersebut mengirimkan biodata singkat anak perempuan pertamanya dengan niat menjodohkan putrinya dengan saya. Saya yang waktu itu masih mengajar di SD sempat bingung dengan tawaran tersebut.

Pertama, saat itu saya sudah mempunyai beberapa incaran sendiri. Kegalauan saya adalah antara mempertahankan salah satu gadis idaman semasa kuliah (maksudnya memilih untuk menikahinya suatu hari nanti) atau menikahi putri teman lama orang tua yang sama sekali belum pernah saya kenal sebelumnya.

Kedua, waktu itu saya mengajar di sebuah Sekolah Dasar Islam yang masih berkembang. Sehingga gaji saya waktu itu hanya sekitar 800 ribuan hingga 1 jutaan. Saking kecilnya (karena di bawah UMK Bogor 2016), saya pernah curhat ke teman, “Kalau kayak gini, kapan saya bisa nikah ya??” ๐Ÿ˜ฆ Selain belum punya modal nikah, saya juga ragu apa ada gadis S1 yang mau menikah dengan seorang lelaki dengan penghasilan hanya 1 juta per bulan?

Ketiga, kakak kedua belum nikah. Artinya kalau saya menikah, saya akan melangkahi kakak kedua untuk yang kedua kalinya. Tentu normalnya mana ada adik yang tega melangkahi kakaknya dalam hal pernikahan meski secara syariat Islam hal tersebut tidak masalah.

Lanjut ya. Jadi, gadis yang dijodohkan ke saya itu adalah anak kedua dari teman lama Ummi dan Abi. Di mana kami berdua tidak pernah satu sekolah mulai dari TK hingga kuliah S1. Meski berteman, tapi orang tua kami tidak pernah bertetangga dekat, sehingga kami berdua saat itu benar-benar tidak saling mengenal sebelumnya. Mirip seperti orang tua kami dan kakak pertama saya yang menikah tanpa pernah mengenal jauh calonnya sebelumnya. Kalau kakak ketiga saya, dia dan suaminya sebelum menikah pernah mengajar di SDIT yang sama di periode yang sama (teman kerja). Agak berbeda, tapi sama-sama tidak pernah pacaran sebelum menikah.

Waktu itu saya berkata ke Ummi saat ditanya mengenai kesiapan menikah, “Mi, Yusuf belum ada modal nikah.”

“Tenang, nanti uang nikah Ummi yang siapin. Ummi ada uang warisan.”

“Kalau gitu Yusuf terserah Ummi, Ummi ikhlas gak kalau Yusuf nikah sekarang?”

In syaa Allah ikhlas.”

Dan eng ing eng, tepat pada hari Sabtu sore tanggal 8 Oktober 2016, kami melakukan ta’aruf (perkenalan) di sebuah rumah makan di Blok M Square. Saya ditemani Ummi dan calon saya waktu itu ditemani oleh kedua orang tuanya. Jadi dalam ta’aruf, harus ada “pihak ketiga”, entah itu orang tua, teman, Ustadz/ah, ataupun yang lain. Yang jelas tidak boleh hanya berduaan, karena itu termasuk tindakan setan. Buat yang penasaran dengan sistem menikah via ta’aruf alias tanpa pacaran, akan saya jelaskan sedikit apa itu ta’aruf dan bagaimana prosesnya. Kalau mau lebih lengkap sih bisa baca di sini.

Ta’aruf termasuk bagian dari proses pernikahan secara syariat Islam. Ta’aruf beda dengan pacaran. Banyak yang bilang pacaran adalah sarana saling mengenal calon pasangan sebelum ke jenjang pernikahan. Padahal siapa yang bisa menjamin bahwa dengan pacaran ia bisa mengenal calon pasangannya dengan baik. Karena pacaran sebelum menikah menurut saya penuh dengan kepalsuan. Karena orang yang pacaran umumnya akan berusaha tampil tanpa cela di depan pasangan (tidak resmi)-nya. Sementara setelah menikah tidak ada jaminan sang pasangan akan bertindak sama seperti saat ia pacaran. Satu lagi, pacaran lama-lama gak ada jaminan bahwa ujungnya akan menikah. Banyak juga teman saya yang pacaran bertahun-tahun ujungnya putus dan sang mantan menikah dengan pria/wanita lain.

Dalam menuju pernikahan, ta’aruf itu penting karena amalan pernikahan dampaknya seumur hidup. Pasti tidak ada orang yang mau hubungan pernikahannya berujung cerai di tengah perjalanan. Maka dalam ta’aruf masing-masing calon boleh bertanya hal-hal penting yang bisa menjadi pertimbangan untuk lanjut ke taraf khitbah (melamar) atau menolak lamaran. Kalau saya waktu itu punya dua pertanyaan terkait kriteria saya (selain sholehah),

1. Kuat jalan kaki jauh atau gak?
Karena saya kurang suka akhwat lemah. Saya lahir di keluarga pejalan kaki. Abi, Ummi, saya, dan saudara-saudari kandung saya tangguh dalam berjalan kaki jauh. Makanya dulu kalau teman kakak pertama saya bertanya ke kakak saya, “Kalau jalan kaki jauh gak Za?” Terus dijawab, “Lumayan.” Maka responnya, “Wah, kalau lumayan menurut Fauza mah berarti jauh.” ๐Ÿ˜€

Btw, adik laki-laki saya juga punya kriteria sama dalam hal ini. Bagi kami berdua, cantik itu bukan soal kulit putih, tapi soal kuat jalan kaki, tak peduli apa warna kulit sang gadis. Jadi kalau ada gadis berkulit putih dan berparas cantik tapi gak kuat jalan kaki, maka bagi kami berdua tetap saja ia gak cantik.

2. Saya punya cita-cita bekerja di bidang kehutanan, siap gak tinggal di mana saja (jauh dari Jakarta)?
Meski saya senang mengajar, tetapi sisi lain hati saya juga menginginkan diri ini bekerja di bidang kehutanan seperti gelar sarjana S1 saya. Dan bekerja di bidang kehutanan artinya siap bekerja di mana saja di seluruh Indonesia. Bahkan siap jika harus tinggal di perkampungan yang bisa jadi susah sinyal ataupun listrik.

Taukah kalian apa jawaban istri saya waktu itu? Ya, kalian benar! Tentu saja dia menjawab “iya” untuk kedua pertanyaan itu. Kalau dia menjawab “tidak” untuk kedua pertanyaan atau salah satunya mungkin saya akan sangat ragu untuk melamarnya dan akhirnya mungkin kami tidak akan menikah. Jawaban aslinya tentu tidak sekedar kata “iya”, terutama mengenai pertanyaan kedua. Tapi dapat disimpulkan bahwa in syaa Allah dia kuat jalan kaki jauh dan siap jika harus tinggal jauh dari Jakarta. Oh iya, pertanyaan saya (saat ta’aruf) tidak hanya dua itu ya, tapi dua pertanyaan tersebut adalah dua pertanyaan kunci yang menjadi pegangan saya apakah saya bisa tertarik dengannya atau tidak.

Selesai ta’aruf, saya ditanya oleh ayah sang perempuan kapan saya bisa memberikan jawaban tentang kelanjutan proses pernikahan. Jika saya “menerima”, maka selanjutnya adalah khitbah (lamaran). Tapi jika saya menolak atau tidak tertarik (dengan anak perempuannya), maka proses pernikahan dihentikan. Karena meski kami dijodohkan, kami berdua punya hak untuk menerima atau menolak pernikahan. Saat itu saya meminta waktu dua pekan.

Saya akui, dua pekan saat itu terasa begitu berat. Meski telah melakukan sholat istikhoroh (berusaha memilih yang terbaik salah satu di antara dua hal (ุทู„ุจ ุฎูŠุฑ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู† ู„ู…ู† ุงุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุฃุญุฏู‡ู…ุง) dengan cara shalat dan berdoa), tapi selama dua pekan itu saya tidak merasakan kemantapan hati ataupun sebuah mimpi. Baik kemantapan hati untuk melamar ataupun kemantapan hati untuk menolak.

Akhirnya ketika saya pulang ke rumah dua pekan setelah ta’aruf, saya menyatakan kegelisahan saya kepada Ummi. Lalu meminta Ummi untuk menyampaikan ke keluarga perempuan bahwa saya minta tambahan waktu satu pekan lagi. Di masa satu pekan tambahan itulah akhirnya suatu malam saya bermimpi. Saya bermimpi jalan-jalan berdua sambil berfoto-foto dengan gadis yang dijodohkan tersebut. Meski akhirnya saya mendapat mimpi, saya masih memiliki keraguan untuk lanjut ke tahapan khitbah. Saya ragu sebab selama ta’aruf, sang gadis sama sekali tidak bertanya tentang penghasilan, padahal adik kelas saya yang lebih dulu menikah punya pengalaman beberapa kali gagal ta’aruf (tidak lanjut khitbah) karena masalah penghasilannya yang belum seberapa.

Ummi lalu menelepon ibu sang gadis. Hasilnya ternyata sang gadis menjawab bahwa dirinya siap menerima keadaan saya yang baru berpenghasilan sekitar satu jutaan. Akhirnya dengan mengucapkan bismillah saya pun menyatakan siap lanjut ke jenjang khitbah.

Sabtu, 13 November 2016 menjadi momen yang bersejarah dalam hidupku. Ya, pada hari itulah saya dan sebagian keluarga besarku mengunjungi rumah keluarga sang gadis untuk melaksanakan prosesi khitbah. Hari ini (Kamis, 2/8/2018) ketika saya hendak menulis paragraf ini, saya membuka kembali dokumentasi lama ketika prosesi itu berlangsung. Lalu kulihat foto-foto diriku waktu itu. Lantas terlintas dalam pikiran, “Kok dia mau ya sama saya?” Jelas, sebab kupikir saya gak ganteng-ganteng amat dan (saat itu) masih jauh dari kata mapan.

Pada akhirnya saya menyadari, bahwa memang dialah yang pantas untukku. Dia yang mencintaiku dengan tulus. Dia yang merinduiku ketika diriku menghilang lama dari sisinya. Dia yang menangis kala mengkhawatirkanku. Dan dia yang menerima segala kekuranganku apa adanya.

Cekcok dalam rumah tangga adalah hal biasa. Begitu pula dengan perbedaan. Dalam banyak hal kami berbeda, tapi kami menganggap itu sebagai anugerah. Karena kami berbeda bukan untuk diperselisihkan, tapi untuk saling melengkapi.

Pernikahanku berlangsung pada hari Sabtu tanggal 14 Januari 2017. Dan seperti yang sudah kutulis di atas, saya akan cerita sedikit mengenai kehidupan pasca pernikahan.

Jadi, sejujurnya, dulu waktu masih bujang saya sempat hopeless saat saya menjadi guru di sebuah SD Islam di Bogor. Hopeless karena saya berpikir apakah saya nantinya bisa kerja di bidang kehutanan atau harus terjebak menjadi guru SD selamanya. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bukannya saya tidak menikmati menjadi seorang guru, tapi saya masih punya keinginan untuk bekerja sesuai bidang sarjana saya. Ya, saya memang punya dua sisi, satu sisi senang mengajar dan satu sisi senang menjadi seorang rimbawan. Makanya saya sangat senang kalau mengajar tentang alam (hutan dan isinya), karena saat itu saya menjadi seorang pengajar sekaligus seorang rimbawan.

Alhamdulillah, sejak menikah, saya dipindahtugaskan mengajar di Jakarta (masih satu yayasan dengan sekolah tempat saya mengajar di Bogor). Pindahnya saya ke Jakarta membuat saya cukup bahagia. Karena saya jadi punya banyak teman guru cowok (kalau di Bogor, selain Kepsek, saya satu-satunya guru cowok waktu itu). Selain itu, gaji saya pun meningkat, karena standar yang berbeda antara Bogor dan Jakarta.

Tak lama kemudian. Tepat satu setengah bulan setelah saya menikah, atas usaha mertua dan izin Allah swt, saya mendapat kabar lowongan (close recruitment) sebagai honorer di Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) – KLHK. Kalau dipikir dengan akal sehat mungkin gak bakal ada yang sangka. Entah bagaimana kok bisa ketika Dit. PJLHK butuh satu orang honorer lewat salah satu dosen jurusan saya – yang salah satu asistennya adalah senior saya – yang dimana senior saya adalah salah satu kenalan sahabat lama mertua dan Abi saya – yang ketika mertua saya silaturrahim ke sahabat lamanya menanyakan ada tidak lowongan untuk saya di Bogor terkait kehutanan yang akhirnya sampailah kabar tersebut kepada senior saya. Hingga akhirnya saya pun dapat informasi adanya close recruitment honorer di Dit. PJLHK dari senior saya tersebut. Maka ketika diwawancarai, saya dianggap orang pilihan dosen saya itu. Dimana saya memang kenal dosen tersebut, tapi saya yakin dosen saya tersebut gak kenal sama sekali sama saya. Sebab saya bukanlah salah satu bimbingan dosen tersebut ketika skripsi. Mungkin itulah yang disebut “rezeki tak akan tertukar”. Karena kalau kasus normal, mungkin yang akan diterima adalah salah satu bimbingan sang dosen yang sudah lulus tapi belum mendapat kerja.

Dan berkat dorongan keluarga dan keluarga istri, akhirnya saya memberanikan diri mengajukan resign dari sekolah pada hari Jum’at tanggal 3 Maret 2018. Setelah satu setengah tahun saya mengajar di yayasan tersebut dan saya sama sekali gak mampu untuk mengajukan resign.

Bekerja sebagai honorer di Dit. PJLHK membuat saya sangat bersyukur. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berkecimpung kembali di dunia kehutanan setelah sempat saya merasa saya sudah tidak punya kesempatan untuk bekerja di bidang kehutanan. Dimana alhamdulillah selain penghasilan meningkat (lagi), di sana saya juga dapat kesempatan untuk dinas luar ke daerah-daerah lain. Dimana saat itu kalau harus pakai uang pribadi mungkin saya bakal gak sanggup untuk pergi ke sana.

Awal September 2017, saya dapat tugas dinas luar ke Balai Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara di Kalimantan Barat. Pada saat itu sudah dibuka pendaftaran seleksi CPNS 2017. Rekan kerja yang bersama saya saat dinas luar ke BTNGP pun menyarankan untuk memilih BTNGP saat pendaftaran seleksi. Singkat cerita saya pun daftar sebagai Polhut di SPTN (Seksi Pengelolaan Taman Nasional) Wil. I Sukadana BTNGP, karena ternyata peminat formasi Polhut di sana selain saya cuma dua orang.

Alhamdulillah pada September 2017 pula istriku hamil. Dan pada akhir bulan November 2017, saya dinyatakan lulus sebagai CPNS dengan formasi Polisi Kehutanan Pertama di SPTN Wil. I Sukadana BTNGP. Yang paling berkesan dalam tes ini adalah saya merasa ada banyak bantuan Allah swt hingga akhirnya saya bisa lulus tes. Dan banyak kemudahan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu selama saya mengarungi bahtera rumah tangga.

Kesimpulan: Menikah akan memunculkan banyak keberkahan dan kebaikan. Selain amalan (ibadah) kita menjadi sempurna nilainya, rezeki pun menjadi berlipat ganda. Oh iya, rezeki itu gak selalu penghasilan dalam bentuk uang ya.. Ada banyak macam rezeki dan rezeki/nikmat tertinggi adalah nikmat iman dan Islam.

Sangkalan: Saya menulis ini bukan untuk menyombongkan diri. In syaa Allah ini sarana saya tahadduts bin ni’mah yang disyariatkan oleh Allah swt.


Setiap manusia memiliki kisah hidupnya masing-masing dan hanya diri kita sendirilah yang bisa menikmati kisah hidup kita masing-masing baik ketika senang ataupun sulit. Jangan pernah iri terhadap hidup orang lain, karena kita belum tentu bisa menikmati kisah hidup mereka. (Nasihat untuk diri sendiri)

Yusuf Muhammad, 02-08-2018

Mulai ditulis sejak 12 Maret 2018 di Jakarta dan selesai pada 2 Agustus 2018 di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Selesai ditulis di Kantor SPTN Wil. I Sukadana BTNGP sambil stres karena e-kinerja belum selesai dikerjakan.

Iklan

28 pemikiran pada “Kisah Belakang Layar Pernikahanku dan Kisah Keberkahan Setelah Pernikahan

    1. Betul.. Doa terbaik untukmu bro dan semoga kau selalu dalam lindungan Allah swt.. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin..

      Asli kangen ane kita kumpul lagi.. Semoga Allah swt memberi kita kesempatan untuk bertatap muka lagi di dunia.. Kalaupun tidak bisa semoga kita bisa reuni lagi di surga-Nya, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin..

      Suka

    1. ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†..

      Kembali salam.. Maaf baru ngeh komentar Mas belum saya balas, hehe..

      Makasih banyak atas kunjungannya.. ๐Ÿ˜€

      Suka

  1. MasyaAllah..
    Baru sempet baca kisah ini padahal dlu aku salah stu tmn blog yg mnta kisah ini. Sangat indah sekali kisahnya, menikah ternyata banyak membuka pintu rezeki dari arah yang tak diduga. Semoga sehat trs dede bayi dan ibunya, mnjd kluarga yg sakinah mawaddah wa rohmah till jannah. Doakan aku segera mnyempurnakan separuh agama juga ya. Hehe

    Disukai oleh 1 orang

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.