Alhamdulillah, Aku Masih Selamat!


Selasa (30/1) malam lalu menjadi malam yang tidak terlupakan olehku. Sebuah kecelakaan kendaraan bermotor terjadi malam itu. Yang lebih menyedihkan, kecelakaan tersebut terjadi karena diriku sendiri.

♠♣♥♦

Malam itu seperti biasa aku melaju kencang mengendarai sepeda motor di Jalan Raya Lenteng Agung Barat. Jalanan yang mengarah ke Pasar Minggu (Jakarta) itu memang lenggang di sore dan malam tapi padat di pagi hari. Sayang jalanan yang lenggang itu tak bisa kunikmati lama-lama, sebab begitu memasuki Jalan Letjen T.B. Simatupang, maka kemacetanlah yang kudapati.

Hidup di Jakarta memang keras. Jika kamu biasa tinggal di daerah yang sepi lalu lintas kendaraan bermotor, maka saat kamu tiba di Jakarta pertama kali, kamu akan merasakan stres yang luar biasa menghadapi kemacetan yang panjang. Jangankan orang yang baru merasakan pertama kali kemacetan di Jakarta, aku saja yang orang Jakarta kadang suka stres menghadapi kemacetan di sini.

Padatnya isi jalanan di Jakarta jugalah yang membuat hampir semua pengendara mengendarai kendaraannya dengan gila. Ya, kegilaan yang mungkin terasa biasa bagi para penghuni Jakarta. Salip kanan salip kiri tanpa memakai lampu sign, klakson sana klakson sini, rem mendadak sebab tiba-tiba ada yang menyalip, melawan arus, tetap melaju kencang ketika menghadapi polisi tidur, atau bahkan menerobos lampu merah, itu semua seakan sudah menjadi kelumrahan di jalanan Jakarta.

Sebenarnya aku termasuk orang yang tidak pandai mengebut di jalan. Tapi bukan berarti aku orang yang pandai berkemudi pelan. Membingungkan ya? Haha.. Maksudnya aku cukup terbiasa mengebut, bahkan seringkali aku tetap mengebut di kala akan menghadapi polisi tidur (tidak pandai berkemudi pelan), tapi aku tidak mampu juga terlalu mengebut dan tidak terlalu pandai menyalip. Bisa dibilang jika dibandingkan dengan pengemudi motor lainnya di Jabodetabek, kemampuan menyalipku hanya dapat nilai C atau bahkan D.

Dan begitulah, kekurangmampuanku berkendara pelanlah asal mula terjadinya kecelakaan ini. Saat itu aku belum lama melewati bundaran Metro Pondok Indah menuju Jalan Gedung Hijau Raya. Berada di posisi depan ketika lampu merah membuat aku tak segan-segan mengebut. Dan karena jalanan tersebut berada di antara perumahan elit, maka terdapat beberapa polisi tidur di sepanjang jalannya.

Polisi tidur pertama kulewati dengan baik-baik saja hingga akhirnya di polisi tidur kedua kecelakaan itu terjadi. Mempunyai kebiasaan tak bisa berkemudi pelan melewati polisi tidur membuatku tidak segera menurunkan kecepatan saat akan menghadapi polisi tidur itu. Selain karena kebiasaan, saat malam hari pandanganku dalam berkendara tidak terlalu baik. Biasanya polisi tidur di malam hari tidak terlihat oleh mataku.

Kurang lebih tepat beberapa meter di depanku, seorang bapak-bapak mengemudikan motornya dengan santai. Menurunkan kecepatannya saat akan menghadapi polisi tidur. Sementara aku terus saja melaju kencang. Dan detik-detik tak terlupakan itu terjadi. Motorku yang terlambat kurem menabrak sisi kanan belakang motor sang bapak yang malang.

Badanku terlempar kurang lebih dua meter dari motorku. Meluncur di atas aspal sepanjang beberapa puluh sentimeter. Masih teringat rasanya bagaimana sensasi itu. Badan yang terhempas dan kepala yang meluncur di atas aspal hingga tercipta bunyi-bunyi gesekan antara helm dan aspal. Sementara itu terdengar suara rintihan bapak-bapak yang jatuh terimpit motornya dan motorku.

Masih teringat rasanya bagaimana sensasi itu. Badan yang terhempas dan kepala yang meluncur di atas aspal hingga tercipta bunyi-bunyi gesekan antara helm dan aspal.

Alhamdulillah, aku masih selamat, begitu juga dengan sang bapak. Tak ada yang menabrak kami dari belakang. Dan tak ada patah tulang untuk kami berdua. Kubayangkan bagaimana jika saat itu aku tak memakai helm dan jaket dobel. Mungkin kepalaku sudah hancur dan badanku sudah luka-luka lecet. Alhamdulillah yang lecet saat itu hanyalah bagian bawah dengkul kananku.

Tak lama, beberapa orang muncul menyelamatkan kami berdua ke pinggir jalan. Memberi kami minum dan obat merah. Saat itu ada yang lebih hancur dari kondisi badanku, yaitu hati dan pikiranku. Mengapa? Sebab kusadari betul kecelakaan tersebut murni karena kesalahan pribadiku. Juga sebab sebenarnya tujuanku hanya tinggal beberapa ratus meter saja dari tempat kecelakaan tersebut.

Aku beruntung, sang bapak yang menjadi korban adalah orang yang cukup bijak. Tentu beliau menyalahkan diriku yang berkendara dengan sembarangan, tapi cukup bijak untuk tidak memaki-maki diriku. Beliau memiliki kebijaksanaan hingga menganggap bahwa sebagian dari kejadian itu termasuk ketentuan dari Allah swt.

Beliau tak banyak menuntut. Hanya sedikit ganti rugi untuk badan motornya yang rusak dan biaya urut serta tak lupa sedikit nasihat untukku. Dan ketika aku hendak menangis memohon maaf padanya, ia justru berkata, “Tak perlu menangis kencang. Itu tak berguna.” Membuatku segera berusaha berhenti menangis dan menghapus air mataku. Entah pada akhirnya beliau memaafkanku atau tidak (meski sepertinya beliau memaafkanku), ternyata memaafkan diri sendiri juga bukan perkara mudah. Kuberdoa semoga beliau selalu diberkahi dan dimudahkan rezekinya.

Entah pada akhirnya beliau memaafkanku atau tidak (meski sepertinya beliau memaafkanku), ternyata memaafkan diri sendiri juga bukan perkara mudah.

Banyak hikmah pada kejadian ini. Tak hanya mengenai keharusan berhati-hati dalam berkendara, tetapi juga mengenai bagaimana cara kita bersyukur, bertanggung jawab, dan ikhlas menerima sebuah takdir. Serta bagaimana kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari sebuah pengalaman, seperti firman Allah swt dalam surat An-Nahl ayat 90 yang berbunyi,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (النحل : ۹۰)

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl : 90)

Semoga aku ataupun kalian bisa mengambil pelajaran dari kasusku ini. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin..

Selesai tengah malam,
Jakarta, 2 Februari 2018
16 Jumadil Awal 1439 H

Iklan

13 pemikiran pada “Alhamdulillah, Aku Masih Selamat!

  1. Salsa

    Jadi inget cerita abang ttg jalan tol😅

    Oiya, dlu salsa kalau jatuh dari motor, bahkan sampai kecelakaan juga dijahit, ayah cuman bilang “pasti kamu gak berdoa” dan yeah ayah benar. Aku gak berdoa. Ya jadi pelajaran jugasih.hehe

    Suka

      1. Salsa

        Ituloh bang. Waktu jalan2 ama temen abang trus abang yg nyetir mobilnya dan bawanya “pelan” banget ternyata disrempet orang apaya (?) Trus akhirnya make hukum jalan tol. Yg ngebut yg bener😅

        Disukai oleh 1 orang

  2. audris

    NAH INI. Yang bikin aku ga pernah berani untuk belajar motor. Pernah deng, sekali, pas di sulawesi soalnya kita dapet penginapan terpencil dan jalanannya kosong. Balik ke bandung, ga pernah pegang motor lagi😂
    Begitu pun sama mobil, waktu itu pas belajar nyetir aku nyaris nabrak motor hhhh jadi takut nyetir.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya, alhamdulillah saya baik-baik saja dan Bapaknya baik..

      Sepakat, selain ini saya juga pernah kecelakaan ringan disenggol angkot hingga nyusruk ke trotoar. Kepala tabrak tiang listrik. Alhamdulillah pakai helm waktu itu, jadi kepala aman gak benjol sebesar bakpau (kasus Setnov).

      Disukai oleh 1 orang

      1. Tapi asli, heran saya kok Setnov bisa benjol sebesar bakpau padahal nabraknya “gitu doang”.. Pakai mobil bagus lagi..

        Saya pernah mengalami yang lebih parah soalnya (kecelakaan tunggal mobil nabrak tiang). Depan mobil hancur parah sampai mesinnya ikut hancur, tapi alhamdulillah saya dan supir yang duduk di depan aman..

        Suka

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.