Kado Terakhir


Oleh: Yusuf Muhammad

Lisa memaki dalam hati. Hatinya benar-benar dibuat kesal atas kelakuan Ila, temannya. Ingin rasanya ia mengamuk, tapi hatinya masih bisa menahan diri. Bagaimana ia tidak kesal, hadiah ulang tahunnya sukses hancur berkeping-keping.

“Lisa, maaf ya, aku gak sengaja.”

“Aku gak terima. Ini kan hadiah ulang tahunku yang berharga!”

“Nanti aku carikan yang baru deh,” bujuk Ila. Dalam hatinya ia sungguh sangat menyesal karena secara tak sengaja telah merusak barang temannya itu.

“Masalahnya tidak sesimpel itu tahu!” nadanya mulai meninggi. Perlahan air mata Lisa mengalir. Lalu ia terisak-isak sambil menjauh dan duduk memeluk lutut di pojokan kamar.

Ila hanya bisa terpaku melihat temannya mulai menangis di pojok kamar. Gagal sudah acara akhir pekan yang seharusnya bahagia. Merasa takut menambah kesedihan, Ila memutuskan keluar dari kamar, membiarkan Lisa ditemani kesendirian untuk beberapa saat.

Awalnya mereka berdua ingin menghabiskan akhir pekan mereka di rumah Ila. Mereka berdua adalah sahabat sejak kecil. Kini mereka berdua sudah kelas dua SMP. Mereka tidak berada di SMP yang sama, rumah mereka berdua pun tidak bisa dibilang berdekatan, tapi tidak juga terlalu jauh. Kalau ditempuh dengan jalan kaki bisa menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit. Sejak masuk SMP mereka berdua memang jarang bertemu, maka seharusnya pertemuan kembali ini adalah hal yang menyenangkan.

Brak!” terdengar suara pintu dibanting. Ila yang sedang berada di dapur terkaget dan segera menuju asal suara. Ternyata itu adalah pintu depan. Terlihat dari jendela depan siluet Lisa yang berlari menjauh dari rumah.

“Lisaaa!!” teriak Ila. Namun teriakannya sia-sia. Tak sedetik pun Lisa menoleh ke arahnya dan terus berlari menjauh. “Aduh, kenapa kayak drama banget sih,” gerutu Ila.

Sebenarnya ini bukanlah pertama kalinya mereka berdua bertengkar. Tapi ini adalah pertama kalinya “pertengkaran” mereka terasa sangat “drama”. Ila yang makin jadi bingung memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah. Menurutnya sekarang belum waktu yang tepat untuk berbicara kepada Lisa. Apalagi saat ini Ila memang sedang sendirian di rumah. Ayah dan ibunya sedang ada acara, sementara ia memilih untuk tidak mengikuti keduanya sebab ingin menghabiskan akhir pekan bersama Lisa.

Dikuncinya pintu depan dan ia langsung beringsut ke kamarnya. Dilihatnya pecahan cendera mata masih tergeletak di tempat yang sama. Ia mengingat-ingat lagi awal mula kejadian. Awalnya Lisa bersemangat bercerita tentang kakaknya yang kuliah di Mesir. Lalu ia menunjukkan hadiah yang ia dapatkan dari kakaknya saat ia berulang tahun beberapa bulan yang lalu. Ila yang ingin melihat lebih dekat meminta Lisa untuk memberikan hadiahnya. Hadiah tersebut sukses berpindah tangan pada awalnya. Tapi takdir berkata, tak lama setelahnya, hadiah tersebut tergelincir dari tangan Ila dan jatuh ke lantai berkeping-keping.

Ila memandang ke sekeliling kamar. Ditemukannya sebuah map kecil di dekat pintu. Pasti ia tak sadar saat sebelumnya ia masuk ke kamar. Map itu bukanlah miliknya, mungkin itu punya Lisa yang terjatuh dari tasnya yang terbuka ketika ia berlari keluar dari kamar. Diambilnya map itu, lalu dibuka dan diambilnya sebuah potongan koran yang tersimpan di dalamnya.

Kliping itu berisi berita satu bulan yang lalu. Berita tentang mahasiswa Indonesia yang meninggal akibat kecelakaan mobil di Mesir. Jantung Ila mulai berdetak kencang, ia merasakan firasat yang tidak menyenangkan. Dibacanya berita itu dengan cepat. Tak lama kemudian akhirnya ia menemukan nama korban tersebut. Ila terpaku, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.  Tak salah lagi, itu adalah nama kakak Lisa. Ia kini paham mengapa Lisa begitu marah padanya. Kado itu adalah kado terakhir dari sang kakak yang sangat dicintai Lisa. Saat tersadar, Ila merasa dunia terasa begitu sepi hingga suara jarum detik dari jam dinding kamarnya terdengar begitu jelas.

Tamat.


Editor: Ego Praniki Sabarno

Iklan

8 pemikiran pada “Kado Terakhir

    1. Kadonya piring ukiran nuansa Mesir..

      Tentang mereka baikan apa kagak itu R A H A S I A! Hahaha.. Kata orang, cerita fiksi yang menggantung ending-nya itu bagus, wkwk..

      Tapi in syaa Allah pasti baikan, karena mereka berdua kan sholehah, hehe..

      Disukai oleh 1 orang

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s