Saya Beruntung karena Saya Bisa Mengenal Alam


Mulai Senin (19/9) dua pekan yang lalu, saya mendapat amanah baru untuk mengajar di Jakarta. Masih sekolah yang sama dengan tempat mengajar saya sebelumnya, simpelnya sekolah yang di Jakarta adalah pusatnya dan di Bogor adalah cabangnya. Tapi saya tetap mengajar di Bogor, lengkapnya Senin-Selasa di Jakarta dan sisanya (Rabu hingga Jum’at) di Bogor. Di Jakarta saya mengajar mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) kelas 4, 5, dan 6. Nah, saat mengajar merekalah saya mendapatkan perasaan ini.

Alkisah, saat itu di kelas enam, saya mengajar tentang perkembanganbiakan tumbuhan. Dan ternyata itu bukan hal yang mudah! Kamu tahu kenapa?? Ya, benar, karena kebanyakan dariΒ mereka tumbuh besar tanpa mengenal tumbuhan.

Mereka mungkin kenal beberapa jenis umum di antara sekian banyak spesies tumbuhan yang ada. Tapi ketika saya menjelaskan tentang spora, hampir semua siswa di kelas belum pernah mengenal tumbuhan paku.

Saya sendiri tidak ingat, kapan pertama kali saya mengenal seperti apa tumbuhan paku. Apakah sejak SD atau ketika saya SMP di sebuah pesantren di Bogor. Sebenarnya wajar bila saat itu mereka belum kenal dengan tumbuhan paku. Hanya saja yang membuat sedih adalah saya tidak bisa menemukan satu pun tumbuhan paku di sekitar sekolah untuk dikenalkan kepada mereka.

Bagi kebanyakan orang, bukanlah suatu masalah jika tidak mengerti hal-hal umum tentang tumbuhan. Tentu, karena tidak semua orang ditakdirkan untuk menjadi ahli botani, naturalis, rimbawan, petani, atau pekebun. Tapi tidak untuk saya.

Karena saya memiliki ketertarikan pada alam sejak kecil lewat berbagai buku ataupun film dokumentasi. Saya bersyukur saat SMP saya masuk ke sebuah pesantren di mana saat itu pesantren tersebut belum terlalu modern (sekarang pesantrennya sudah terlalu modern). Sehingga selama di pesantren saya memiliki pengalaman berenang di sungai yang bersih, memanjat berbagai pohon, mengenal dan mencoba secara langsung bunga yang bisa diminum nektarnya, menjelajah hutan, dll. Di mana semua hal tersebut sangat sulit untuk bisa dirasakan di Jakarta (kampung halamanku).

Alhamdulillah saya juga bersyukur ketika akan lulus SMA saya berhasil diterima di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB pada pertengahan tahun 2010 lewat jalur UTMI (Ujian Talenta Masuk IPB). Meski setelah lulus saya tidak bekerja di bidang kehutanan (sudah 1 tahun), saya masih punya impian untuk kembali ke alam, walau saya belum tahu kapan itu bisa terwujud. πŸ™‚

“Di mana pun kita bekerja, kita tetaplah seorang konservasionis, kita tetap seorang rimbawan!” begitulah kira kira wejangan dari para senior maupun dosen saya di kampus. Dan ya! Saat ini saya seorang guru dan saya seorang konservasionis, seorang rimbawan. Misi konservasi saya adalah menanamkan nilai cinta alam dan lingkungan kepada semua anak didik saya, karena

Pendidikan konservasi haruslah ditanamkan sejak dini agar setiap insan memiliki nilai konservasi dalam jiwa mereka di mana pun nantinya mereka berada.

Terakhir,

“Konservasi tak sekedar perlindungan.”

Jakarta, 4 Oktober 2016
Ditulis di kantor guru sebelum tiba bel masuk sekolah.

Iklan

20 pemikiran pada “Saya Beruntung karena Saya Bisa Mengenal Alam

  1. Mmm, tumbuhan paku ya mas? Jd inget jaman dulu, sewaktu Cinta msh kecil, di belakang rumah Cinta ada kolam yang besar sekali dan sekitar 3mtr dlamnya dr prmukaan tanah (harus melalui tangga jika ingin masuk ke dalamnya), berhubungan dengan sungai di depannya yang hanya disekat dengan kain kasa. Di kolam itu bnyak ganggang hijau, dan di sekelilingnya, ada seekor kura2 lucu yang sngt besar dan sudah tua usianya. Lalu ada udang2 kecil mungkin dr sungai dan masuk kesitu. Di sekeliling kolam tumbuh tumbuhan paku, indah sekali. Cinta kdg bayangin t4 itu kini. Kalau lg sdih, Cinta biasa nyebur kesitu, lalu ayah dan ibu akan panik nyariin Cinta dmn. Cinta kgen kolam itu. Kolam besar yg kini sudah mnjadi tanah. Rindu…rindu sekali kenangan msa kecil Cinta itu mas. πŸ˜’πŸ˜‘πŸ˜Š

    Suka

  2. Duraja435

    Betul mas Yusuf, anak-anak memang perlu sejak dini ditanamkan rasa cinta pada semua nikmat Allah di muka bumi ini, agar dengan begitu dia mengenal penciptanya, ya kan?

    Disukai oleh 1 orang

      1. siaaap kak yusuf. hahahaha. biar ngambek kalo dipanggil ucup wkkk
        tapi gak baik deng. bukan panggilan yang baik dan kak yusuf gasuka πŸ˜€
        maafin ya kak :”
        semoga besok besok gak terulang..
        gabisa janji
        kabur

        Disukai oleh 1 orang

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s