Dilema Sebuah Niqob (Cadar)


Entah mengapa dari sekian banyak draf, tulisan inilah yang akhirnya muncul ke permukaan. Tapi sebelum melangkah lebih jauh, saya akan memberikan beberapa klarifikasi mengenai tulisan ini.

  1. Tulisan ini tidak hendak menyinggung golongan apapun. Jikalau terdapat kata-kata yang menyinggung di dalam tulisan ini saya mohon maaf sebesar-besarnya. In syaa Allah niat saya dari awal hingga akhir memang tidak ingin menyinggung siapapun.
  2. Yang pasti, tulisan ini adalah murni pendapat saya, sehingga jika ada perbedaan pendapat maka itu adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Kolom komentar terbuka bagi siapapun yang ingin berkomentar, asalkan tetap menjunjung sopan santun dalam bertutur. Terima kasih.

~Ÿε-εΜ~

Ada yang belum tahu apa itu niqob atau cadar?? Jika belum tahu silakan cek gambarnya di google saja ya. Tapi harap lihat yang baik-baiknya saja, karena sejujurnya saya pribadi prihatin dengan tidak sedikitnya meme yang menyinggung terkait niqob di google.

Mungkin sebagian dari kita akan bertanya-tanya, “Apa sih hukum memakai niqob?” Jika kalian ingin mengetahui hukumnya, kalian bisa searching di yufid.com. Bukannya promosi sih, tapi mencari ilmu agama (Islam) di yufid.com lebih aman dibandingkan google.com. Karena yufid.com menyaring informasi di internet yang berkaitan dengan ilmu agama. Sedangkan di google kan kagak ada penyaringnya (terkait ilmu agama Islam).

Nah, setelah saya baca dari beberapa sumber (salah satunya di muslimah.or.id, klik untuk baca artikelnya), saya menyimpulkan bahwa pendapat para ulama terbagi menjadi dua. Pendapat pertama adalah wajib. Dan pendapat kedua adalah sunnah. Intinya, niqob bukanlah sesuatu yang diharamkan, sehingga haram pula bagi kita untuk melarang seseorang apabila ia ingin memakai niqob. Nah, lalu apa sih yang menjadi dilema??

Dilemanya adalah negara kita (Indonesia) yang walaupun mayoritasnya beragama Islam, tapi tak sedikit dari mereka (muslim) yang belum mengerti tentang Islam. Sehingga tak sedikit mereka yang antipati terhadap ajaran agamanya sendiri. Niqob adalah ajaran Islam, meski ada perbedaan pendapat antara wajib dan sunnah, tetapi para ulama sepakat bahwa niqob tidak haram (kecuali saat ihrom). Yah, bisa dibilang mirip dengan qunut. Qunut seperti yang kita tahu, ada yang mengatakan wajib, ada yang sunnah. Jadi yang paling penting adalah tetap sholat shubuh berjamaah, walaupun antara kita dan imam sholat, berbeda mazhab (dalam hal qunut).

Kembali ke masalah niqob. Karena masih kurangnya pemahaman masyarakat kita pada umumnya lah yang membuat pengguna niqob sulit untuk mengabdi dalam bidang pendidikan. Saya menjadi saksi mata atas kejadian ini. Tidak hanya satu kasus, tapi bahkan dua. Kali ini saya hanya bisa menceritakan kasus yang kedua, untuk kasus yang pertama atas banyak pertimbangan tidak bisa saya ceritakan.

Kejadian kedua yang saya alami adalah kejadian setelah hampir satu bulan saya mengajar di sekolah qur`an yang ada di Bogor. (Semoga para guru__apalagi pemilik yayasan dan kepala sekolah__tidak menemukan dan membaca tulisan ini, haha..) Ada seorang ustadzah senior yang sudah mengabdi di sana selama beberapa tahun. Hingga pada suatu ketika, ia memutuskan untuk memakai cadar atau niqob.

Ketika hari itu tiba, masuklah ia ke sekolah dengan sudah mengenakan niqob. Lalu satu per satu murid mulai berdatangan ke sekolah. Ada yang bersama orang tuanya dan ada pula yang sendirian. Dan ternyata beberapa orang tua murid (saya tidak tahu jumlah pastinya) akhirnya melihat ustadzah senior itu dalam keadaan mengenakan niqob. Tahukah kalian apa reaksi yang terjadi kemudian?

Tebakan kalian tepat! (Sok tahu, haha) Ya, sebagian mereka panik hingga langsung mengirim pesan kepada kepala sekolah, “Mau dibawa ke mana sekolah ini??” Mereka takut! Lagi-lagi niqob dinisbatkan kepada terorisme. Mereka berpikir bahwa sekolah atau lembaga pendidikan dengan pengajar yang memakai niqob adalah sekolah atau lembaga pendidikan garis keras. Padahal kan tidak selalu begitu. Kalaupun ada, sesungguhnya itu adalah oknum. Karena Islam adalah agama yang damai.

Singkat cerita, karena keputusan ustadzah senior tersebut untuk tetap memakai niqob, sekolah mau tak mau terpaksa harus mengistirahatkan beliau dari kegiatan belajar mengajar. Tentu atas kebijaksanaan, sekolah tidak pernah memberitahukan alasan sebenarnya mengapa ustadzah tersebut diistirahatkan dari KBM. Orang tua murid (sebagian besar memang belum mengetahui perihal niqob ini) hanya tahu bahwa ustadzah senior itu berhenti mengajar karena sedang butuh istirahat dari aktivitas mengajar.

Pihak sekolah maupun orang tua dan juga murid sebenarnya sama-sama merasakan kehilangan. Bagaimanapun tak bisa dipungkiri, ustadzah tersebut adalah ustadzah senior yang telah memberikan banyak jasanya di sekolah. Ia dicintai karena pengabdiannya yang tulus selama ini. Sayang, pengabdiannya harus terhenti akibat pemahaman mayoritas masyarakat kita yang belum baik.

Kalau sudah seperti ini kita tak bisa menyalahkan siapa-siapa kan? Yah, inilah dilema. Jika ada dari pembaca yang merupakan seorang muslimah, maka semoga keputusan memakai niqob atau tidak adalah sebuah keputusan yang matang. Dan pastinya dengan saya menulis ini, bukan berarti saya memaksakan keputusan seseorang, in syaa Allah niat saya hanya ingin berbagi cerita.

Akhir kata, Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Bogor, 16 Desember 2015
Selesai ditulis (setelah sebulan lebih hanya jadi draf) beberapa jam sebelum acara wisuda kelulusan saya. Alamat kemungkinan besar tertidur saat proses wisuda di GWW, haha..

Iklan

10 pemikiran pada “Dilema Sebuah Niqob (Cadar)

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s