Aku dan Dunia Tulis Menulis


“Tulislah! Meski kau belum tahu apa yang harus kau tulis!”

Aku rindu masa di mana aku begitu bersemangat untuk menulis. Saat itu aku masih kecil, masih berada di sekolah dasar. Masa di mana aku menghabiskan waktuku untuk membaca dan juga menulis. Tak peduli apakah tulisanku akan dibaca atau tidak aku tetap menulis. Tak peduli tulisanku bagus, baik dalam artian bagus isinya ataupun bagus tidaknya bentuk tulisan tanganku, aku tetap menulis. Berkat sering menulis itu pula saat ini bentuk tulisan tanganku cukup bagus saat ini. Itulah yang disebut keahlian yang tercipta bukan dari bakat lahir, tapi dari sebuah kerja keras dan kebiasaan.

Aku tak pernah tahu mengapa Yusuf kecil begitu bersemangat untuk menulis saat itu. Tak ada yang pernah memintaku untuk sering menulis. Orang tuaku pun bukanlah seorang penulis, sehingga memang kebiasaanku saat itu bukan karena faktor orang tua. Tapi mungkin kebiasaanku saat itu tetap tak terlepas dari sebuah pengaruh.

Ya, kurasa aku dipengaruhi oleh kakak-kakakku waktu itu. Saat SD, kakak pertama dan keduaku sekolah di sebuah pesantren di Bogor, sehingga sehari-hari aku lebih banyak berinteraksi dengan kakak ketigaku dan kedua adikku. Nah, kakak ketigaku itu lah yang mempengaruhiku tentang nikmatnya menulis. Kakak keduaku dulu juga suka menulis beberapa cerita karangannya sendiri. Sepertinya sepengetahuanku hanya kakak pertama yang jarang kulihat dia menulis. Tapi seingatku pula dialah satu-satunya kakakku yang pernah menceritakan dongeng kepadaku ketika masa liburan tiba. Dongeng yang tak pernah tamat. Tak pernah tamat bukan karena ceritanya yang panjang, tapi sebab hilangnya kesempatan untuk menamatkan dongeng tersebut. Sedih bukan? L

Awalnya mungkin aku masih suka menulis di buku tulis hingga saat itu tiba, kalau tidak salah saat aku kelas dua SD, yaitu saat omku di Haurgeulis mengirimkan mesin tik tua ke rumah kami. Sebuah mesin tik yang telah kehilangan masa kejayaannya. Meski sudah mulai kehilangan masa kejayaannya, mesik tik tua itu tetap menjadi layaknya harta karun bagi kami yang masih kecil. Dan bila dibandingkan dengan saudara-saudara kandungku yang lain, hanya akulah yang paling terobsesi terhadap mesin tik tua itu. Bahkan obsesi itu bertahan hingga aku berada di sekolah menengah atas, saat sudah tidak ada seorang pun di rumah yang masih menaruh perhatian padanya.

Mesin tik itu memang membawa perubahan bagiku. Aku yang awalnya hanya suka menulis di buku mulai menyukai menulis dengan mesin tik. Tapi mulai bergeser pula saat ayahku memberikan kami sebuah komputer di rumah. Aku sangat suka mengetik di komputer kami. Kebiasaan jari jemariku menari di atas keyboard komputer saat masih SD membuatku memiliki kemampuan mengetik di atas rata-rata dibandingkan teman-temanku saat aku berada di awal masa nyantri (SMP). Bahkan yang lucunya sampai muncul gosip yang beredar luas di kalangan anak-anak seangkatan maupun kakak-kakak kelasku di pesantren. Gosip bahwa aku bisa mengetik buta. Haha, benar-benar lucu, hanya karena aku menyelesaikan lebih awal tugas pertama mengetik mata pelajaran komputer di kelasku. Padahal aslinya sampai saat ini pun aku masih belum bisa mengetik buta. Hanya bisa mengetik lebih cepat dibandingkan mereka yang memang tidak terbiasa mengetik di atas keyboard komputer.

Saat SD aku memang sering dijadikan andalan untuk melakukan pekerjaan ketik-mengetik di dalam komputer. Entah itu permintaan ibuku atau bahkan tetanggaku. Aku benar-benar menikmati pekerjaan itu. Saat ini, kalau aku berpikir ulang, jangan-jangan sebenarnya aku tidaklah terlalu menyukai menulis, tapi lebih senang mengetik. Mungkin benar juga, meski belum tentu benar seratus persen, karena bagaimanapun saat SMP aku masih menyukai menulis di buku tulis. Tapi kalau dipikir-pikir ulang kayaknya aku memang lebih menyukai menulis di dalam komputer daripada di atas buku tulis. Sejak aku mengenal komputer sepertinya aku baru akan menulis di buku tulis jika memang aku tidak memliki kesempatan untuk menulis di dalam komputer.

Lalu mengenai tipe tulisan seperti apa yang paling senang aku tulis, sampai saat ini sepertinya aku masih belum bisa menjawabnya. Aku memang penulis absurd. Ada kalanya aku senang menulis cerita fiksi. Ada kalanya aku senang menulis karya ilmiah. Ada kalanya aku sedang gandrung-gandrungnya menulis jurnalistik. Atau terkadang senang menulis artikel dengan gaya bahasaku sendiri. Tapi aku takut aku adalah penulis yang tidak jujur.

Bukan, bukan maksudku bahwa yang kutulis merupakan sebuah kebohongan (kecuali memang yang kategorinya fiksi ya). Tapi aku tak pernah menjadi penulis yang benar-benar bisa menuliskan isi hatiku yang sesungguhnya. Aku hanya terlalu takut. Aku terlalu takut untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku terlalu takut untuk menunjukkan pada dunia seperti apa aku yang sebenarnya. Aku seperti hidup dalam kepalsuan dan aku hidup dalam kesendirian meski sedang berada dalam keramaian. Memang itu tidak selamanya dan aku juga memang tidak menginginkannya. Aku hanya bisa berharap pada Allah, aku dapat mempunyai seseorang yang sangat spesial suatu hari nanti.

Seseorang spesial yang dapat kujadikan tempatku mengungkapkan pendapat dan isi hatiku dengan sangat terus terang. Seseorang yang dengan lembut bisa menegurku saat memang pendapatku kurang tepat ataupun salah. Bukan berarti saat ini aku tak memiliki orang tua, saudara kandung, maupun teman tempat aku berbagi cerita. Hanya saja sampai saat ini belum ada tempat berbagi rahasia. Rahasia diri yang hanya mau kuungkapkan bagi belahan jiwaku nanti. Meski saat ini aku belum tahu siapa dan sebenarnya aku memang tidak perlu tahu siapakah dia saat ini. Yang kuperlukan hanyalah berdoa kepada Allah agar Dia memberikan yang terbaik bagiku. Karena hanya Dialah yang memang Maha Mengerti siapa diriku sebenarnya. Maha Mengerti apa yang sebenarnya kubutuhkan, bukan apa yang sekedar aku inginkan.

Bogor, Ciomas, Perumahan AlamTirta Lestari, 31 Oktober 2015
ditulis di dalam laptop tua yang ditemukan di gudang sekolah pada 30 Oktober siang. Ditulis mulai dari 30 Oktober malam dan berakhir pada 31 Oktober dini hari. Ditulis dalam kesendirian di kosan belakang sekolah tempatku mengajar.

Iklan

11 pemikiran pada “Aku dan Dunia Tulis Menulis

    1. Iya, setelah sekian lama.. Udh lama gk blogwalking jg nih gara2 netbook ane yg dulu mati total..

      Hmm.. gak cepet2 amat sih.. apalagi di zaman skrg.. dg kemajuan teknologi, bnyk org yg bs ngetik cepat..

      Suka

  1. yusuf pernah pake mesin tik? wah, ane juga pernah di kantor Ibuk. Belepotan banget ngetiknya tapi. Karena dulu pas belajar ngetiknya masih TK-SD dan tangan ane kecil, jadi pas ngetik itu jarinya sering kepleset masuk sela-sela tombol hurufnya.

    btw, ayo nulis lagi!

    Suka

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s