Curhatan Ngalor Ngidul


Bisa dibilang ini adalah postingan yang terlambat. Lebih tepatnya terlambat mencurahkan isi hati, haha.. hiks.. hiks.. (gajebo detected)

Oke, jadi ini berkaitan dengan musibah yang menimpaku belum lama ini. Sebenarnya ini musibah yang tidak terlalu berat. Secara akhir-akhir ini saya sering mendapatkan berita duka tentang orang tua teman-temanku yang sudah dipanggil ke haribaan-Nya. Dan jika saya ingat-ingat ulang, ternyata sudah cukup banyak teman sekelasku saat kuliah (Nepenthes rafflesiana 47)__belum lagi ditambah dengan teman-temanku yang lain__yang sudah kehilangan ayah, atau ibu, ataupun keduanya. Jadi alhamdulillah, saya sangat bersyukur hingga saat ini orang tuaku masih lengkap.

Ini berkaitan dengan teman hidupku. Bukan, bukan, ini bukan tentang teman hidup yang satu ini (baca: pasangan hidup), karena saya belum menikah dan saya juga tidak pacaran, haha.. Ya, teman hidupku yang menemani hari-hariku selama hampir tiga tahun terakhir. Tahukah siapa dia? Seharusnya dia adalah Al-Quran, tapi saat ini bukan dia yang saya maksud. Lagipula dia (Al-Quran) seharusnya bukan teman baru yang baru kukenal tiga tahun terakhir. Meskipun sedihnya sering saya meninggalkan temanku yang satu itu (Al-Quran). Astaghfirullah.

Sudahlah, terlalu banyak basa-basi. Karena tidak ada yang suka basa-basi terlalu panjang. Tapi siapa peduli? Toh, saya percaya tidak ada yang namanya pembaca setia, lebih tepatnya yang benar-benar setia. Dulu mungkin saya percaya, ada pembaca yang akan membaca tulisan saya setiap saya selesai menulis, yang selalu membaca apa yang saya tulis. Tapi itu angan-angan yang terlalu tinggi. Jadi entah sejak kapan, saya sudah tidak percaya lagi kepada yang namanya pembaca setia. Karena untuk mendapatkan pembaca, sebuah tulisan haruslah menarik! Dan rasanya itu makin sulit saya lakukan. Dulu saya bisa membuat banyak tulisan mengenai renungan kehidupan, tapi sekarang-sekarang ini saya merasa makin sulit untuk melakukannya.

Ya, angan-angan untuk selalu mendapatkan pembaca itulah yang membuatku menjadi gila! Itulah juga yang membuat blogku semakin sepi tulisan dari masa ke masa. Dunia ini memang lucu. Ada yang menulis blog tapi tidak ingin diketahui oleh siapa-siapa, ada yang menulis blog untuk diri sendiri (alias tidak peduli ada yang baca atau tidak), dan ada yang menulis blog untuk berbagi. Eh, lucunya di mana ya??

Lucunya sampai saat ini saya tidak tahu saya masuk kategori yang mana. Kayaknya itu bukan lucu deh, tapi bodoh.

Aaarghh!!! Kayaknya ini tulisan makin kaco. Semoga saya gak jadi beneran gila!! (Aamiin)

Kembali ke topik awal! Teman hidup yang saya maksud adalah laptop (lebih tepat mungkin disebut netbook). Netbook yang selama ini menemani saya bermain, belajar, mengerjakan tugas__baik itu akademik maupun non-akademik, mencari beasiswa, bersosial media, dll. Pekan lalu netbook itu sudah dipanggil oleh-Nya. Ya, kini netbook itu tiada berfungsi seperti dulu. Kata tukang servis, chip netbook saya sudah rusak, sehingga netbook saya divonis mati total!

Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Selamat jalan kawan! Terima kasih sudah menyertaiku selama ini. Maafkan diriku hingga membuat dirimu seperti ini karena sering memakaimu hingga overdosis. TT^TT

Meski engkau telah tiada, saya tetap bersyukur. Toh, memang tiada yang abadi di dunia ini. Alhamdulillah, Allah telah memberiku amanah netbook hingga tiga tahun. Alhamdulillah Allah mengambilnya kembali setelah saya lulus sarjana. Alhamdulillah dengannya saya bisa melakukan banyak hal. Alhamdulillah, bagaimanapun dulu saya pernah merasakan sulitnya tidak punya laptop atau netbook pribadi. Mengerjakan tugas selalu harus ke Cyber ataupun warnet. Ataupun dengan malu-malu mencoba meminjam punya teman. Lalu alhamdulillah, sekali lagi alhamdulillah, pada semester lima dengan rahmat-Mu Engkau mengamanahkanku sebuah netbook. Maka benarlah firman Allah, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Markaz Al-Biruni, 10 September 2015
di keheningan malam

Catatan: terima kasih kepada Andyka atas pinjaman laptopnya malam ini


Sebelum akhirnya saya posting ini tulisan, ternyata saya terpikir untuk menambahkan sebuah catatan.

Sebenarnya selain tulisan yang menarik, ada satu cara lain mendapatkan pembaca setia, yaitu memperoleh teman seideologis. Ya, teman yang mempunyai cara berpikir yang tidak jauh berbeda sehingga ia selalu tertarik dengan apa yang kita tulis. Masalahnya apakah sebenarnya saya punya teman seperti itu? Entahlah. Atau teman dekat yang selalu mendukung apapun yang kita kerjakan? Apakah saya punya teman dekat?? Tapi rasanya saya tidak punya teman yang benar-benar dekat. Dan sejak kejadian di SMP, saya akhirnya memiliki prinsip tidak ingin memiliki teman yang terlalu dekat. Saya tidak akan menceritakannya di sini. Tapi entahlah, jika di kolom komentar ada yang bilang ingin tahu lebih dalam tentang ini, mungkin saya bisa berubah pikiran untuk menuliskannya di blog saya suatu hari nanti. Tapi itu cuma “mungkin” loh. Alias saya tidak janji “in syaa Allah saya akan kerjakan”.

Iklan

7 pemikiran pada “Curhatan Ngalor Ngidul

      1. Kalo disuruh nebak soal ini sih… sulit kak xD
        Nggak ingin punya teman dekat karena masih belum ada yang seideologiskah kak? Btw, saya penasaran kejadian semasa SMP itu seperti apa sampai kak Yusuf memutuskan nggak pengen punya temen deket lagi ._.

        Suka

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s