ばか!Mafia-mafia Itu Sukses Membuatku Menjadi Orang Bodoh


ばか! ばか! ばか!” (Baka! Baka! Baka!)

Rasa kesal begitu menjalar di sekujur tubuh. Siang itu aku terus menerus memaki diri sendiri dengan kata-kata “baka” yang artinya “bodoh”. Sebenarnya diriku sempat enggan bercerita tentang hal ini. Karena seakan-akan aku sedang mengumbar kebodohanku sendiri. Tapi sejak membaca kisah temanku yang satu ini, aku berjanji untuk bercerita tentang hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang ditulis temanku di sana.

Oke, sebagai permulaan, aku akan menjelaskan bahwa aku adalah pribadi yang polos dan terkadang masih memiliki idealisme. Polos dalam artian aku sangat mudah percaya kepada seseorang, meskipun terkadang mereka membohongiku. Tapi semakin berjalannya waktu, kini aku sudah bisa memilah mana yang harus dipercaya dan mana yang harus diragukan kebenarannya. Yah, meskipun terkadang masih saja bisa tertipu.

Selain polos tanda kutip dan idealis tanda kutip, aku juga sulit berbohong. Sifatku yang sulit berbohong menjadikan diriku berada dalam dua sisi, disenangi dan dibenci. Yups, jika kamu masih percaya bahwa orang baik tidak akan dibenci, kamu adalah katak dalam tempurung. Percaya deh, orang jujur pasti dibenci oleh para pembohong. Mulai dari hal terkecil, misal dianggap tidak bisa diajak bercanda. Padahal Rasul saw. melarang kita untuk berbohong meskipun itu hanya bercanda. Makanya teman-temanku yang suka iseng (bercanda) dengan cara berbohong akan membenciku yang sulit berbohong.

Kembali ke topik, ini adalah cerita tentang buruknya tata tertib lalu lintas di negeri kita. Jika kamu ditilang polantas (polisi lalu lintas) apa yang kamu pilih? Menyogok di tempat (bahasa halusnya sih “berdamai”) atau ikut sidang di kepolisian? Well, kebanyakan orang sih akan memilih berdamai. Kalau aku pribadi sebenarnya lebih memilih untuk membayar ke negara, tapi ternyata hal itu sangat sulit terjadi.

Selama hidupku sampai saat ini, aku sudah pernah ditilang tiga kali. Kasus pertama terjadi di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Singkat cerita aku naik motor ayah sendirian, diberhentikan di kolong jembatan, kena tilang. Lalu bingung pilih sidang atau damai. Akhirnya telepon ayah dan ayah menyuruh untuk kasih langsung saja polisinya uang. Batin bergejolak karena tidak sesuai hati nurani, tapi apa daya karena itu bukan motor pribadi. Polisi tahu aku kebingungan sampai akhirnya dia sendiri yang menawarkan buat berdamai saja dengan membeli beberapa bungkus rokok di warung pinggir jalan. Habis sekitar tiga puluh ribu rupiah dan kasus pun ditutup.

Kasus kedua terjadi di sekitar kampus IPB, di pertigaan Jalan Raya Dramaga dengan Jalan Babakan Raya. Hampir menabrak polantas, akhirnya aku kena tilang. Di sini aku mulai merasa seperti orang bodoh. Lagi-lagi nuraniku tidak mau memberi uang ke pribadi polisi, aku lebih ikhlas membayar denda ke negara meskipun itu mahal. Toh memang aku salah dan aku punya kewajiban untuk bayar denda. Saat itu aku diminta bayar denda maksimal sebesar 250 ribu rupiah. Di dompetku saat itu tidak ada uang sebanyak itu. Orang pintar akan berkata, “Pak, saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya bayar lima puluh ribu saja ya. Please Pak, saya masih mahasiswa.” Bisa jadi itu bakal berhasil, setidaknya banyak temanku yang berhasil dengan cara seperti itu. Sedihnya aku tidak sepintar itu. Aku memang bodoh dalam hal mengelak dan membuat-buat alasan (bahasa halusnya sih terlalu jujur). Karena meskipun di dompet tidak ada uang sebanyak itu, aku sebenarnya memiliki simpanan sebesar itu di atm.

Gotcha! Ini polisi memang pintar banget. Entah dari mana dia tahu kalau aku ada uang di atm. Dengan tegas ia menyuruhku mengambil uang di atm. Beruntung banget tuh polisi, tempat ia menilang tak jauh dari atm center. Beres bayar batinku merasa tak enak sebab tak ada bukti pembayaran denda. Lalu aku meminta surat bukti pembayaran ke polisi tersebut. Polisi dengan tenang hanya bertanya tentang namaku, lalu mencatatnya di balik buku tilang. Udah, ternyata cuma gitu aja saudara-saudara! @#$%^&!!! @#$%^&!!! @#$%^&*!!!  Sumpah, aku benar-benar kesal karena sudah bayar mahal tapi nyatanya malah masuk kantong pribadi, bukan kas negara. Dan yang lebih membuat kesal adalah ketidakberdayaan diri, karena itu membuatku sukses menjadi orang bodoh.

Kasus ketiga lebih sukses lagi membuatku menjadi orang paling bodoh. Tempat tertilang sama dengan kasus kedua. Kali ini karena aku tidak memakai helm yang akhirnya kena dua pasal karena tidak punya SIM juga. Berbeda dengan polisi di kasus kedua, polisi yang satu ini lebih menyarankanku untuk ikut sidang. “Kamu mahasiswa kan. Kamu pasti tahu bahwa sesuai peraturan, kamu harus ikut sidang.” Hatiku saat itu tenang, aku senang mendapat polisi yang bermoral seperti itu. Singkat cerita ia tahu bahwa motor yang kupakai bukanlah punya pribadi dan akhirnya ia memberikan solusi untuk berdamai. Alasan yang ia pakai adalah karena ia tidak ingin diriku menyusahkan orang lain (pemilik motor) karena jika mengikuti sidang artinya STNK motor tersebut akan ditahan.

Setelah berdiskusi dengan pemilik motor, ternyata pemilik motor menyerahkan kembali semua urusan ke diriku. Artinya aku bebas memilih. Lewat beberapa pertimbangan aku memilih untuk mengikuti sidang. Pertama aku ingin merasakan sidang seperti apa dan kedua aku ingin menyambut panggilan baik dari polisi. Masalah niat hanya Allah swt. yang tahu. Tapi melihat polisi tersebut di awal memang menyarankan untuk ikut sidang, maka aku merasa bahwa polisi itu punya niat baik. Ia tidak menginginkan uang, ia lebih menginginkan diriku untuk mengikuti aturan. Dan jadilah aku akan mengikuti sidang pada tanggal 13 Februari 2015.

Tibalah hari bersejarah itu. Awalnya aku pergi ke Pengadilan Negeri Cibinong, mengantri untuk sidang. Ketika nomorku dipanggil ternyata aku salah tempat, seharusnya aku mengikuti sidang di Polres Cibinong, bukan di Peradilan Negeri (dengan nomor sekian-lupa). Karena tidak tahu lokasi tepat di mana polres itu berada, akhirnya aku berjalan asal di halaman. Dan cerita bodoh ini pun dimulai.

Aku dipanggil oleh seseorang yang bertubuh besar. Bertanya apa yang terjadi padaku, lalu menawarkan bantuan. “Dek, kamu serahkan saja kepada saya. Kamu kena dua kasus kan. Maksimal itu 250 ribu. Kalau dengan saya, kamu bisa hanya kena 200 ribu.” Sesuai prinsip, aku menolak. Sayangnya diriku terasa kerdil di hadapannya. Mafia ini sudah punya pengalaman bertahun-tahun, mengintimidasi orang kecil sepertiku adalah mudah baginya. Di saat diriku kesulitan mencari cara untuk kabur darinya, tiba-tiba muncul seseorang lagi yang tidak kukenal. Tubuhnya kurus tapi ia punya nyali seorang mafia yang membuat kata-katanya terdengar berpengaruh bagi orang lemah. “Sudah, kamu serahkan saja kasusmu pada orang ini,” katanya mempengaruhiku.

Sukses sudah aku tak dapat mengelak dari dua orang mafia ini. Dengan berat hati kuserahkan surat tilangku kepada seseorang dengan tubuh besar tersebut. Ia lalu pergi menaiki motor dan orang kurus itu mengajakku minum kopi sambil terus mempengaruhiku. Sial! Aslinya aku tidak mau dipengaruhi dan aku tidak terpengaruh. Hanya saja aku terlalu lemah untuk menolak. Dan aku memaki kelemahanku. Aku benci diriku yang tak berdaya menghadapi dua mafia ini.

Cerita tak berakhir sampai di situ. Tak lama kemudian orang bertubuh besar tersebut tiba membawa STNK temanku itu. Lalu ia berkata, “Dek, tadi saya ke sana dan kalau bukan karena saya, kamu kena 300 ribu. Karena saya teman (temannya polisi), makanya saya hanya bayar 250 ribu saja.” @#$%^&*!!! Hei, memangnya aku orang bodoh ya! Zaman sekarang mana ada “orang bodoh” yang mau membantu orang yang tak dikenal tanpa upah (maksudku dalam kasus-kasus seperti ini). Sebegitu baiknya kah ada mafia yang mau membantu seseorang tak dikenal hingga tak mengambil upah. Jika benar kena 250 ribu masa ia hanya memintaku 250 ribu, apalagi temannya tadi memberiku segelas kopi gratis. Tidak mungkin! Sama halnya seperti calo yang pasti akan mengambil untung, tidak mungkin tidak. Aku memang polos, tapi aku tidak bodoh. Tapi sepertinya aku harus mengakui bahwa aku bodoh, karena aku hanya bisa mengumpat dalam diam.

Sebelumnya pernah kudengar temanku berkata bahwa ketika ia ikut sidang, ia hanya harus membayar 150 ribu. Entah benar atau tidak karena pada akhirnya diriku tidak berhasil merasakan sidang. Anggap saja benar. Oke, berarti saat itu aku sukses membayar tiga mafia. Uang 150 ribu rupiah masuk kantong hakim dan 100 ribu rupiah masuk kantong dua orang preman. Sebab kejadian itulah sepanjang perjalanan pulang aku terus memaki diriku sendiri dengan kata-kata, “Baka! Baka! Baka!” (Bodoh! Bodoh! Bodoh!).

~YM~

Tiga kejadian tersebut sukses membuat idealismeku berubah. Bagi pembaca yang bernasib sama denganku (idealis), camkanlah ini! Pertama sebagai warga negara yang baik kita harus taat peraturan seperti membawa STNK, memakai helm, dan mempunyai SIM. Tapi ada kalanya kita lupa membawa STNK, tidak memakai helm, atau belum sempat punya SIM (kalau saya pribadi lebih tepatnya belum menyempatkan diri untuk buat SIM, hehe..). Kalau itu terjadi dan kamu kena tilang, lebih baik kamu berdamai. Karena ketika kamu ikut sidang kepolisian tidak ada juga jaminan bahwa uang kamu benar-benar masuk kas negara. Bisa jadi malah cuma masuk kantong hakim dan konco-konconya. Saya percaya bahwa masih ada polisi dan hakim yang baik, tapi tak bisa kita pungkiri juga bahwa kasus KKN sangat marak di kepolisian hingga saat ini. Kalau berdamai, kamu hanya perlu membayar satu mafia dengan harga murah.

Itu pendapatku, bagaimana denganmu? Kalau ingin berpendapat silakan meninggalkan komentar di postingan ini. Terima kasih.

~YM~

Catatan kaki:

@#$%^&* = bang***

Mohon maaf kepada para pembaca bila di postingan ini begitu banyak kata kasar. Saya hanya bercerita ulang kejadian sebenarnya. Ketika di kejadian asli saya memaki lalu ketika dalam cerita saya menulis saya beristighfar kan saya berdosa. Karena berarti saya tidak menceritakan yang sebenarnya. 😉

Tutup postingan dengan istighfar dan hamdalah.

Bogor, 25 Februari 2015
Di sela-sela keruwetan menyusun skripsi yang entah kapan akan selesai.

Iklan

13 pemikiran pada “ばか!Mafia-mafia Itu Sukses Membuatku Menjadi Orang Bodoh

  1. rrrrr,,,,, kesel banget baca cerita kamu ini yusuf… -__-“”
    ga salah sih judulnya baka haha…
    sepanjang baca, saya hanya bisa berkomentar baka baka baka

    mending langsung bikin SIM aja, uang yang kamu habiskan untuk biaya tilang itu udah bisa dapet 2 SIM tanpa tes (nembak, haha) atau 6 SIM kalau pake yang tes (Jalur jujur)

    mari kita doakan saja, semoga nanti akan benar2 lahir petugas pengabdi masyarakat yang benar2 jujur dan menjadi pelindung masyarakat. amiin…

    Disukai oleh 1 orang

  2. duh, baru tahu kesulitan ka yusuf pas sidang kemaren 😦

    satu hal, kalo emang harus kena tilang ya mending ikut prosedur yaitu sidang, tapi jangan pake calo dan tetap husnudzan uangnya masuk kas negara. karena berdamai udah jelas uangnya masuk kantong petugas, haha.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Jazaakallahu khoiron katsiiron..

      Makasih banyak Kang untuk mengingatkan saya atas sebuah idealisme.. Tapi saya juga tidak bisa menjamin bahwa saya bisa selalu melaksanakan idealisme itu, misal kalau yang sedang saya pakai adalah motor orang__dan orang tersebut tidak memiliki idealisme yang sama..

      Salah satu metode yang paling baik memang pencegahan. Yups, kita harus taat hukum. In syaa Allah kapan-kapan saya akan mengagendakan untuk buat SIM. Kurang lebih sudah 7 tahun saya mengendarai motor tanpa menggunakan SIM__jadi selama ini sayanya sendiri juga salah sebenarnya.

      Suka

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s