Kisah 1: Mencoba Menjadi Teladan


#Kisah 1

Mencoba Menjadi Teladan

Narasumber: Suci Latifah
Pewawancara: Anis Fikriyah
Penulis: Yusuf Muhammad
Editor: ??

Matahari tampak masih malu-malu menampakkan sinarnya di ufuk timur. Meski demikian, burung-burung sudah mulai beraktivitas mencari makan di awal hari. Kicauan burung yang merdu lengkap sudah menambah indah hari itu. Ya, kampus ini, Kampus Biodiversitas, adalah kampus yang terkenal dengan banyaknya keanekaragaman hayati. Dan pagi itu terlihat seorang akhwat1 begitu bersemangat berangkat ke suatu tempat.

Namanya Suci Latifah, mahasiswi2 Departemen Gizi Masyarakat angkatan 45 (2008). Suci yang saat itu berada di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) diterima menjadi seorang pengurus sekaligus pembina di Birena Al-Hurriyyah IPB. Begitu pun denganku, aku juga pembina Birena, sayang, kami beda generasi. Kami mungkin belum pernah bertemu atau bertatap muka, tapi biarkan aku mencoba menulis secuil kisahnya selama di Birena. Jika kamu bertanya bagaimana dengan kisahku, maka lupakan saja itu dulu. Mungkin lain waktu aku bisa bercerita padamu.

Jam dinding menunjukkan pukul 6:00 WIB, entah kadang tepat, kadang kurang, kadang lebih sedikit, pada pukul tersebutlah kurang lebih Suci tiba di Aula Al-Hurriyyah. Beruntung sekali Birena mempunyai pengurus seperti dia. Selain datang awal waktu, Suci sangat rajin membersihkan markas Birena3 di Ahad pagi yang indah. Tak hanya membereskan markas, kedatangannya di awal waktu juga untuk menyiapkan apa saja yang akan dibutuhkannya untuk mengajar di hari itu.

Kerajinannya datang di awal waktu bukannya tanpa alasan. Rasa malulah yang menjadi salah satu motivasinya datang di awal waktu. Saat itu, adik-adik begitu rajin datang ke Birena. Mereka berangkat dari rumahnya ba’da4 subuh. Mereka datang mengenakan ransel lusuh, membawa juz ‘amma yang lecek, bahkan tak jarang mereka mengenakan pakaian yang sama setiap pekannya. Wajar, melihat adik Birena saat itu kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Meski demikian, mereka selalu datang dengan riang gembira menyambut hari-hari yang menyenangkan belajar di Birena. Dan itu sukses membuat Suci terharu.

Setiap paginya, adik-adik dan Suci seperti bersaing untuk tiba lebih awal. Bukan persaingan dalam makna sebenarnya, itu hanya persaingan dalam diri seorang Suci. Suci tak ingin didahului oleh adik-adik, ia ingin menjadi seorang teladan. Kadang ia menang dalam persaingan itu, kadang pula ia kalah. Tak mengapa, kupikir sekalahkalahnya ia, Suci selalu lebih baik dariku. Tak jarang aku datang terlambat ke Birena, meski setiap tahunnya aku selalu berusaha menjadi lebih baik. Maklum, setiap tahunnya Birena menerima pengurus baru, jadi tentu aku mau menjadi contoh yang baik bagi adik-adik kelasku.

Tak terasa waktu terus bergulir, kini tibalah pukul 6:30 WIB. Itu menunjukkan waktu efektif pembinaan Birena sudah dimulai. Setiap zaman memiliki masanya masing-masing. Model pembinaan di Birena selalu berubah. Lebih tepatnya bisa dipastikan tidak ada yang sama persis setiap generasinya. Apa yang dilakukan Suci dan pembina lainnya waktu itu kurasakan berbeda dengan yang aku lakukan selama hampir empat tahun lamanya kumengabdi di Birena. Kuberharap secuil kisah ini bisa menjadi pedoman untuk generasi pembina berikutnya. Seperti perkataan orang bijak, “Jadikanlah sejarah sebagai pembelajaran untuk menatap masa depan.”

Tiga puluh menit lamanya waktu yang dihabiskan untuk menghafal juz ‘amma bagi adik-adik sejak pembinaan dimulai. Tepat seperti perkataanku di atas, bahkan sejak tahun 2011 hingga 2014 kumengabdi di Birena, hampir tak pernah satu kali pun__lebih tepatnya dikatakan sangat jarang__dilaksanakan kegiatan menghafal juz ‘amma di pagi hari. Pukul tujuh tiba dan kegiatan dilanjutkan dengan berolahraga. Kurang lebih olahraga berupa senam itu menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Lelah berolahraga, adik-adik diberikan kesempatan untuk beristirahat.

Saat itu setiap pekan ke-tiga dalam sebulan ada yang namanya Nutbi (Nutrisi Birena). Nutrisi Birena adalah sebuah agenda di mana adik-adik diberikan makanan sehat hasil buatan pembina. Pada pekan ke-tiga itulah jam istirahat diisi oleh agenda Nutbi. Aku bisa membayangkan wajah adik-adik yang gembira saat Nutbi. Mungkin aku tak berada di sana, saat Suci dan kawan-kawannya ber-nutbi ria, tapi aku juga pernah merasakan Nutbi sehingga kupikir ku bisa membayangkannya.

Tibalah pukul delapan pagi dan itu saatnya melakukan kegiatan pembinaan inti Birena. Kegiatan inti berupa Biru (Bina Ruhiyah) dan Biah (Bina Quraniyah). Satu setengah jam waktu yang diberikan untuk melaksanakannya, karena setelah itu masih ada kegiatan lain yang menunggu. Agenda selanjutnya adalah sholat dhuha. Siapa sih yang tidak tahu keutamaan dari sholat dhuha? Karena keutamaannya tersebut, pembina Birena senantiasa berusaha rutin melakukannya. Oleh sebab itu pula mereka ingin adik-adik terbiasa dengan ibadah sunah yang satu itu.

Beres sholat sunah dhuha, pembinaan dilanjutkan dengan kelas bebas. Adik-adik boleh memilih ingin belajar di kelas apa. Sayang Suci lupa terhadap kisah yang satu ini. Hingga aku pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Suci dan kelas bebasnya saat itu. Tapi aku yakin, Suci menjalaninya dengan hati senang dan ikhlas.

Pekan itu adalah saatnya kreativitas. Kini Suci sibuk menyiapkan peralatan yang akan digunakan dalam kreativitas. Kreativitas dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar di kelas bebas. Tapi tak setiap pekan Suci dan kawan-kawannya mengadakan agenda kreativitas. Pekan yang lain Suci dan kawan-kawan mengadakan berkebun, pekan yang lainnya lagi memasak bersama adik-adik, dan lain-lain. Putaran kegiatan itu terjadi berulang-ulang setiap bulan. Suci meyakini adanya perbedaan agenda setiap pekan adalah untuk menghindari kebosanan pada adik-adik maupun pembina.

Azan zuhur berkumandang dan saat itulah agenda Suci dalam pembinaan berakhir. Tidak selalu tepat berhenti ketika azan, tak jarang kegiatan pembinaan sudah selesai jauh sebelum azan berkumandang. Suci kini beranjak menuju masjid Al-Hurriyyah untuk menunaikan sholat zuhur berjamaah. Dirinya lelah, sungguh membina memang bukan perkara yang mudah. Tapi dalam lelahnya ia sangat bersyukur. Membina di Birena merupakan anugerah dari Allah yang diberikan kepadanya. Ia bahkan sedih ketika terpaksa meninggalkan Birena tahun depan karena harus fokus berorganisasi di Forces, sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di bidang penulisan ilmiah.

Selesainya pembinaan bukan berarti kegiatan Birena selesai. Suci yang telah selesai sholat berjamaah langsung menuju ke aula lantai dua atau Markaz Al-Biruni. Seperti biasa, Suci dan kawan-kawan akan melaksanakan evaluasi pekanan terhadap kegiatan Birena yang tadi pagi usai dilaksanakan. Terkadang ada juga syuro persiapan IYC (Islamic Youth Camp) yang akan berlangsung selama 3 hari 2 malam. Itu adalah kepanitiaan yang disenangi olehnya sebab ada acara jalan-jalan gratis bagi pembina di sana. Dan mungkin ada banyak kegembiraan lainnya yang sangat dinantikannya di acara tersebut. Tak hanya syuro, kadang kala agenda setelah pembinaan adalah jaulah5 ke rumah adik-adik.

Jaulah ke rumah adik-adik memberikan kesan yang mendalam bagi Suci. Perjalanan menuju rumah mereka di pelosok dengan berjalan kaki menambah haru dalam dirinya. Terasa bagaimana jauhnya rumah mereka dari Birena dan mereka tetap bisa tiba pukul enam pagi dengan berjalan kaki. Lihatlah semangat mereka kawan! Apakah kita tidak merasa malu datang terlambat ke Birena padahal tempat tinggal kita tak jauh dari Aula Al-Hurriyyah. Terbukti sudah, bukan masalah jauh atau dekat secara fisik yang menjadikan seseorang cepat menjawab panggilan dakwah. Tetapi ini masalah IMAN. Sebagai manusia yang diberikan akal oleh Allah seharusnya kita bisa mengakali bagaimana caranya datang tepat waktu sejauh atau sedekat apapun jaraknya.

Itu kisah Suci beberapa tahun silam. Sudah cukup lama ia telah meninggalkan IPB, menebarkan benih kebaikan di belahan bumi yang lainnya. Padaku ia berpesan. Sebuah pesan yang menohok hati nurani yang Alhamdulillah masih bisa bercahaya.

Jangan kabur-kaburan Dek. Di manapun amanah kamu, jangan pernah keluar dari sana kecuali kamu sudah jadi yang terbaik di sana. Kita harus punya leadership meski kita bukan leader-nya. Kalau gak, nanti kamu gak dapat apa-apa, hanya capek saja tanpa kepuasan hati. Yang ada malah nyesel. Mereka itu merasa beruntung sekali punya kita Dek, yang mau mengajari mereka.”

~YM~

Catatan kaki:
1 Arab: saudara perempuan. Penyempitan makna, dimaksudkan hanya untuk perempuan yang memakai pakaian sesuai syariat Islam.
2 Sekarang sudah menjadi alumni.
3 Markas Birena atau sekretariat Birena bernama “Markaz Al-Biruni”.
4 Arab: setelah.
5 Arab: silaturrahim.

Iklan

4 pemikiran pada “Kisah 1: Mencoba Menjadi Teladan

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s