Kabuki, Saudagar, dan Samurai


Setelah saya membaca novel serial “Seikei Konoike” yang berjudul “The Ghost in the Tokaido Inn”[1] karya Dorothy dan Thomas Hoobler, saya menjadi tertarik terhadap “kabuki”, “saudagar”, dan “samurai”. Saya ingin membahas tiga hal tersebut menurut perspektif saya. Jadi jangan marah jika kita tidak sepaham. Sebelumnya saya juga minta maaf jika artikel ini tidak sesuai harapan pembaca yang sedang mencari tahu literatur sejarah maupun budaya ketiga hal tersebut. 😀

~¥M~

Kabuki, Saudagar, dan Samurai merupakan tiga profesi yang berbeda pada zaman Tokugawa atau Jepang abad ke-18. Saya dapat katakan bahwa zaman Tokugawa di Jepang merupakan zaman kegelapan (versi Islam). Seperti halnya zaman Jahiliah di Arab sebelum Rasul diutus, zaman Tokugawa sangat menjunjung perbedaan status atau derajat. Kabuki atau pemain drama memiliki derajat yang paling rendah, disusul oleh saudagar, lalu samurai.

Kabuki dalam novel “Tokaido Inn” terkesan miskin. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjajakan pertunjukan. Mereka biasa tidur di biara ataupun di dalam tenda yang mereka dirikan. Saking rendahnya derajat mereka, samurai terlarang untuk menonton pertunjukan kabuki. Meskipun dalam novel “Tokaido Inn” terkadang samurai rela menanggalkan “simbol” ke-samurai-an mereka demi bisa menonton drama kabuki.

Saudagar atau pedagang dalam novel “Tokaido Inn” merupakan kalangan menengah tapi bukan terkait pendapatan. Mereka mempunyai banyak uang serta pelayan, dan bepergian menggunakan kago[2]. Tetapi samurai memandang rendah mereka karena dianggap malas dan curang. “Malas” karena mereka tidak perlu bersusah payah seperti petani ataupun nelayan dan “curang” karena menjual barang dengan harga tinggi. Rendahnya derajat saudagar juga diperlihatkan lewat kisah mereka yang harus pasrah terhadap harga beli yang ditetapkan oleh seorang daimyo[3] secara paksa.

Samurai dalam novel “Tokaido Inn” merupakan salah satu golongan terhormat. Mereka bekerja kepada daimyo ataupun menjadi pegawai shogun[4]. Samurai seorang satria berdarah satria, petarung yang digariskan menjunjung kesetiaan, keberanian, dan kehormatan. Mereka rela terbunuh ataupun melakukan seppuku[5] demi kehormatan. Hanya mereka yang diperbolehkan menyandang pedang dan membuat haiku[6]__salah satu kesenian Jepang yang bernilai tinggi.

Mari lupakan masalah perbedaan derajat (pengastaan) yang jelas terlarang dalam agama Islam. Di luar masalah pengastaan, saya ingin merefleksikan tiga tokoh tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kabuki, seorang pemain drama yang senang memainkan peran sebagai “orang lain”. Mereka bebas memainkan peran siapa saja, tapi jarang memainkan peran sebagai “diri sendiri”. Terkadang, kita adalah seorang kabuki di atas panggung. Kadang kita tak percaya pada diri sendiri lalu membohongi diri dan menjadi “orang lain”. Kita (kadang) lebih senang menjadi orang lain lalu lupa dengan kehormatan diri sendiri. Banggalah menjadi seorang muslim yang utuh daripada menjadi muslim-musliman atau muslim yang menyerupakan dirinya seperti kafir.

Menjadi saudagar dalam Islam sebenarnya bukanlah hal yang buruk. Para sahabat yang dijamin masuk surga sebagian besar merupakan seorang saudagar. Samurai memandang rendah mereka karena menganggap curang dan hanya mencari keuntungan. Begitu pula dengan Islam. Allah menjanjikan neraka bagi setiap saudagar yang curang dan hanya mencari keuntungan dunia. Bedanya Islam tetap memuliakan para saudagar yang jujur lagi taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kita harus menjadi layaknya samurai dalam hal jiwa kesatria, kejujuran, kesetiaan, keberanian, dan kehormatan. Hanya saja kepada apa atau siapa kesetiaan dan kehormatan itu kita tunjukkan? Samurai sangat setia kepada tuannya dan sangat menjaga kehormatan diri, keluarga (klan), dan tuannya. Islam juga mengajarkan kita kesetiaan dan menjaga kehormatan. Tapi kesetiaan itu hanya diperuntukkan kepada orang beriman lagi taat. Tak ada lagi kesetiaan kepada orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah seorang majikan ataupun raja. Terbunuh karena menjaga kehormatan diri atas haknya adalah sesuatu yang mulia, tapi bunuh diri untuk menjaga kehormatan diri sendiri layaknya samurai adalah hal yang terlaknat. Kita juga harus membuang sifat sombong yang dimiliki samurai, karena hakikatnya kita semua sederajat. Hanya keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya (serta rukun iman lainnya) lah yang membedakan derajat seseorang.

Akhir kata, setiap kita adalah kabuki yang bebas memilih peran dan jalan hidup. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, tapi membebaskan makhluk-Nya untuk memilih sendiri jalan kebenaran atau kebatilan. Setiap kita juga dianjurkan menjadi seorang saudagar yang kaya lagi beriman agar umat Islam mulia. Dan setiap kita adalah samurai, tapi hanya membela kebenaran yang datangnya dari Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Bogor, 10 Agustus 2014 / 15 Syawal 1435

Yusuf Muhammad

~¥M~

Catatan Kaki:
[1] Judul novel versi terbitan Dastan Books (Indonesia) adalah “Tokaido Inn – Mimpi Samurai, Pencurian Rubi, dan Siasat Kabuki”
[2] Kendaraan mewah berbentuk kotak yang dipanggul oleh dua orang bercawat dengan menggunakan dua bilah tongkat
[3] Penguasa feodal pada zaman shogun di Jepang
[4] Penguasa militer
[5] Bunuh diri
[6] Puisi khas Jepang

~¥M~

Galeri:

kago
Foto wanita dalam kago. (Sumber: google)
samurai
Foto samurai. (Sumber: google)
kabuki-box-front-large
Ilustrasi tentang kabuki. (Sumber: google)

ym

Iklan

6 pemikiran pada “Kabuki, Saudagar, dan Samurai

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s