Peluru yang Adil


Kisah ini dikutip dari buku “Keadilan Langit” karya Staf Jenderal Mahmud Syit Khitab. Terbitan An-Nadwah, Jakarta, 1424 H / 2003 M.


Di salah satu hari musim panas dan di pantai laut terjadilah tragedi dan kasus, yang memporakporandakan rumah tangga dan meruntuhkan akhlak mulia.

Lima tahun sebelumnya, seorang wanita (sebut saja Zaujah) mendesak dan minta suaminya (sebut saja Zauj) untuk pergi ke vila laut, untuk menghirup udara segar, berenang, bergumul melawan ombak, dan berbaur menjadi satu dengan para wisatawan dalam keadaan telanjang dan menikmati udara kebebasan, karena meniru wanita-wanita Barat tanpa filter dan agama. Juga melakukan apa saja yang katanya wajar!

Pasangan muda tersebut berkenalan dengan keluarga lain dan di antara anggota keluarga kenalannya tersebut terdapat anak muda (sebut saja Syab) nan berotot, tampan, tinggi, dan punya mobil mewah, tapi tidak punya agama.


Syab menawarkan bantuan dan jasa, demi setan, kepada pasangan Zauj-Zaujah. Terjadilah janji dan pertemuan rutin antara Syab dengan pasangan Zauj-Zaujah. Juga mandi di laut dan obrolan antara Syab dengan Zaujah. Sedang Zauj, ia tidak mengurus istri dan anaknya, karena lebih asyik memandang “daging-daging manusia” di laut, yang berbusana, tapi sebenarnya telanjang. Ya, berlangsunglah janji dan pertemuan haram antara Syab dengan Zaujah.

Syab rela mengantarkan pasangan Zauj-Zaujah dan anak keduanya, ke laut, pada pagi dan petang setiap hari. Mereka semua mandi di satu tempat. Zaujah tidak pandai berenang, lalu Syab mengajarinya berenang, dengan sukarela. Sedang Zauj menjauh dari keduanya, untuk bertemu dengan siapa saja, tanpa dilihat istrinya. Zauj memasang perangkap untuk menjerat kehormatan orang lain, dengan menyerahkan kehormatannya kepada Syab. Persis seperti pengembala yang menyerahkan kambingnya kepada serigala.

Pada awalnya, Zaujah mengagumi jasa dan kebaikan hati Syab dan juga sebaliknya. Tapi, perkembangan selanjutnya ialah masing-masing dari keduanya mengagumi “tubuh” pihak satunya! Jika satpam tidur, maka pencuri bebas beroperasi. Api mesti menyala dan membakar kebaikan sang suami. Juga membakar kesucian!

Tadinya, Zaujah mencintai suaminya dan tidak sanggup berpisah lama dengannya. Anehnya, kini, ia tidak suka bertemu suaminya dan justru menanti waktu demi waktu untuk bertemu pacar barunya.

Hal itu terus berlangsung, hingga akhirnya, Syab ingin menghabisi suami Zaujah. Ia pun membuat skenario besar!


Syab memperlihatkan kebaikannya kepada Zauj dan menunjukkan diri seolah-olah ia mengagumi potensi Zauj. Zaujah juga tidak henti-hentinya memuji kebaikan Syab dan kecintaan Syab kepada suaminya. Demikianlah, lambat laun Zauj mempercayai Syab, menganggapnya bukan orang lain, dan menyerahkan kendali kepadanya.

Pada suatu hari, Zaujah pura-pura sakit dan tidak keluar dari apartemennya bersama anak kecilnya. Lalu, Zauj minta izin kepada istrinya untuk menemani Syab berenang di laut pada waktu shubuh.

Dua jam kemudian, Syab pulang ke apartemen Zaujah dan bercerita kepadanya bahwa suaminya mati tenggelam di laut dan ia sudah berusaha maksimal untuk menyelamatkannya, tapi usahanya gagal total.

Pada waktu shubuh ketika itu, laut sepi pengunjung. Laut berombak dan ombaknya seperti gunung. Ombak naik turun, seperti meteor turun dari langit. Zauj tidak pandai berenang. Tapi, Syab mengajaknya berenang jauh dari pantai dan membiarkannya menjadi santapan ombak. Zauj minta tolong. Tapi, tidak ada yang mampu memberikan pertolongan kepadanya. Akhirnya, Zauj ditelan ombak hingga selama-lamanya!


Kini, Zaujah hidup sendiri tanpa suami. Syab juga sendirian di apartemen, jauh dari keluarganya.

Lalu, dengan lemah lembut, tapi antusias, Syab minta Zaujah menemani dirinya di apartemennya. Ia juga menyatakan siap mengasuh anak kecil Zaujah, demi Zaujah, cintanya tidak suci, dan mengobral janji akan menikahi Zaujah.

Zaujah tidak tahan dengan janji manis Syab, lalu ia menetap di apartemen Syab. Ketika itu, anak Zaujah berumur empat tahun. Anak Zaujah mengira Syab adalah ayah kandungnya. Karena itu, ia memanggilnya dengan penuh cinta, “Papa.”

Suatu ketika, Zaujah meminta Syab menikahinya. Syab menolak dengan halus, kemudian dengan keras. Beberapa bulan kemudian, Syab, yang tadinya lembut, berubah menjadi “pencuri” brengsek. Sekarang, ia menampakkan kebenciannya kepada Zaujah dan si kecil, sebab hatinya telah tertambat dengan wanita lain. Ia berada di apartemen, tapi perasaannya pergi jauh dari Zaujah. Ia baru pulang ke apartemennya pada akhir malam.
Pada suatu pagi di musim dingin, Syab makan sarapan. Saat itulah, Zaujah mendesak Syab untuk menikahinya. Syab menampakkan taringnya yang berbisa dan membeberkan rahasia, yang selama ini ia pendam. Ia minta Zaujah keluar dari apartemennya sebab ia akan menikah dengan wanita lain!

Air mata membasahi pipi Zaujah. Ia ingatkan Syab tentang masa lalu yang manis dan indah. Tapi, Syab keras kepala seperti batu hitam.

Anak Zaujah tidak tahu menahu apa makna air mata yang keluar dari mata ibunya dan tidak paham peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Dengan air mata dan nostalgia masa lalu, Zaujah berusaha mengingatkan Syab. Hasilnya nihil.

Ketika itu, anak Zaujah mempermainkan pistol Syab yang ada di sampingnya dan Syab tidak begitu memperdulikannya, karena berpikiran pistol tersebut tidak berisikan peluru. Ya, pistol tersebut telah ia keluarkan setelah ia pulang ke apartemennya pada akhir malam kemarin.

Orang teler itu tidak bisa membedakan cahaya dengan kegelapan dan jauh dengan akalnya di arus minuman keras.

Tiba-tiba, peluru keluar dari pistol dan persis mengenai bagian bawah hati Syab. Ia menggeliat kesakitan beberapa saat, lalu jatuh dari kursinya dalam keadaan pingsan.

Pada saat kritis seperti itu, Syab mengucapkan beberapa kata. Kata terakhirnya ketika para tetangga berkumpul di tempatnya setelah mendengar suara letupan pistol ialah perkataannya kepada Zaujah, “Akulah yang menenggelamkan suamimu, agar hubunganku denganmu tidak terganggu.”

Dokter tiba tidak lama setelah kejadian. Tapi, nyawa Syab tidak tertolong. Ia meninggal dunia.

Peluru takdir. Ya, peluru takdir dilepaskan anak kecil, yang tidak tahu menahu perjalanannya ke hati Syab.

Bukan anak kecil itu yang menembakkan peluru, tapi Allah Ta’ala yang menembakkannya.

Tirai pun ditutup, sebagai pertanda berakhirnya riwayat hidup Syab. Ia menjadi korban musim panas, di laut yang berombak. Dan, kisahnya menjadi ibrah bagi siapa saja yang menyimpang dari kebenaran.

—-ooOOoo—-

Iklan

6 pemikiran pada “Peluru yang Adil

  1. Saya bingung, sebenarnya yang berdosa siapa? Zauj membiarkan istrinya berkhalwat dan dia sendiri pun bermaksiat. Zaujah juga bermaksiat dengan berselingkuh kepada Syab. Dan Syab tentu dia tokoh utama orang dzalim yang dibalas perbuatannya oleh Allah kan..

    Suka

    1. Kalau masalah dosa semua manusia punya dosa Kak. Kecuali hamba-hamba pilihan Allah yang dijaga dari dosa.

      Mungkin kematian Zauj di laut akibat perbuatan maksiat beliau sendiri karena membiarkan istrinya berkhalwat dengan pria lain. Kesengsaraan hidup Zaujah juga bisa akibat perbuatan maksiatnya sendiri.
      Dan Syab tentunya mati (mungkin kata itu (mati) cukup pantas untuknya) karena balasan Allah atas perbuatannya.

      Suka

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s