Sebuah Identitas dan Pertanggungjawabannya


identitas

Jika berbicara tentang identitas, maka sebenarnya kita punya banyak identitas. Sejak lahir kita sudah membawa identitas keluarga. Kita membawa nama orang tua kita, saudara-saudara kita, bahkan terkadang kerabat maupun leluhur. Tak ayal, maka terkadang ketika kita melakukan kesalahan, orang lain tak hanya menilai diri kita pribadi. Nama keluarga pun bisa ikut tercoreng. Tak hanya identitas keluarga, sejak dalam kandungan kita juga membawa identitas suku dan bangsa. Islam memang tidak mengenal perbedaan suku ataupun bangsa, tapi di dunia saat ini yang diliputi oleh rasisme baik rasisme ekstrem maupun halus, identitas suku dan bangsa kerap menjadi perbandingan di masyarakat.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujuraat: 13)

Perbedaan suku dan bangsa adalah sebuah keniscayaan karena termasuk sunnatullah. Tetapi inti poinnya adalah bukan untuk rasisme, tetapi untuk saling mengenal. Awalnya kita semua sama di mata Allah, tetapi yang membedakan adalah derajat ketakwaan.

***

Berbicara tentang identitas, saya ingat ketika awal saya masuk IPB saya sudah membawa identitas sebagai alumni sebuah pesantren. Kemudian ketika awal matrikulasi, saya mendapat amanah sebagai ketua Rohis B.18. Kedua identitas itu terasa berat di pundak karena banyaknya amanah yang terlalaikan. #Astaghfirullah. Tapi sebenarnya itu juga anugerah dari Allah. Saya akui, iman saya sangat lemah. Enam tahun tidak mengenal pergaulan dengan lawan jenis membuat gelora nafsu ini begitu memuncak. Sudah rahasia umum, tak sedikit alumni pesantren yang pacaran selepas dari kekangan pesantren. Begitulah, akhirnya dua identitas tersebut menjaga saya untuk tidak berpacaran dan berlanjut hingga saat ini.

Alhamdulillah, selain menjadi ketua Rohis ketika TPB (Tingkat Persiapan Bersama, sebutan untuk tingkat satu di IPB) saya ketika itu juga mendapatkan kesempatan berorganisasi di Lembaga Dakwah Kampus Al-Hurriyyah tepatnya di Departemen Birena (Bimbingan Remaja dan Anak-anak). Menjadi pembina di Birena berarti menjadi panutan adik-adik dan remaja dan tentu itu bukan hal yang mudah.

Identitas yang paling berat adalah ketika tanpa saya sangka sebelumnya, saya terpilih sebagai Ketua Angkatan Fahutan (Fakultas Kehutanan) angkatan 47 (2010) ketika BCR (Bina Corps Rimbawan) tahun 2011. Inilah beban seumur hidup. Saya tak mau berandai-andai, saya yakin inilah skenario terbaik dari Allah untuk saya. Saya berharap semoga Allah terus memberikan saya kekuatan agar bisa menjalani amanah ini yang kelak akan ditagih di dunia maupun akhirat.

Tingkat dua adalah tingkat di mana identitas saya bertambah. Awal tingkat dua saya sudah menyandang identitas baru sebagai marboth Al-Hurriyyah. Pertengahan tingkat dua saya juga mengikuti dua diklat di Himakova (Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata), yaitu diklat KPH (Kelompok Pemerhati Herpetofauna) dan KPF (Kelompok Pemerhati Flora). Akhir dari dua diklat tersebut adalah kelulusan saya sebagai anggota KPH dan KPF. Dua buah emblem kini terpasang di lengan kiri baju lapang Himakova.

Ketiga identitas (marboth, KPH, KPF) tersebut kerap membuat bangga sekaligus malu. Sebenarnya tak ada yang bisa dibanggakan. Semua kebanggaan tersebut hanyalah buah kesombongan yang ditanamkan iblis di hati. Tinggallah rasa malu saat diri ini bangun subuh terlambat atau lalai dalam menunaikan sholat. Malu ketika sebagai anggota KPF saya tidak mengerti tumbuhan atau sebagai anggota KPH saya tidak mengerti herpetofauna bahkan gagal dalam menangkap ular.

Setelah lulus nanti akan bertambah pula identitas saya di masyarakat. Identitas sebagai seorang sarjana muda dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Semoga identitas tersebut pada akhirnya bisa membawa kemaslahatan bagi masyarakat sekitar, aamiin..

***

Sebenarnya tidaklah penting sebanyak apa identitas yang kita miliki. Semua identitas tersebut adalah sia-sia. Sia-sia ketika kita berbuat kebaikan atau tidak berbuat kejahatan hanya demi sebuah identitas. Seperti orang yang bersedekah karena ingin disebut dermawan, orang yang menuntut ilmu karena ingin disebut cendekiawan, ataupun orang yang berjihad karena ingin disebut pahlawan. Mereka mendapatkan identitas mereka di sisi manusia, tapi tidak di mata Allah. Allohu ghoyatuna, Allah-lah tujuan kami. Niatkan semua kebaikan demi mendapatkan ridho Ilahi.

Identitas terpenting dan harus menjadi pegangan hidup kita sesungguhnya terungkap dalam kalimat, “Nahnu muslim qobla kulli syay-i” yang artinya, “Kami adalah Muslim sebelum segala sesuatu.”

Sekian. Semoga bisa menjadi pengingat dan bermanfaat bagi kita semua, aamiin..

Wallahu a’lam bish-showwab.

Iklan

3 pemikiran pada “Sebuah Identitas dan Pertanggungjawabannya

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s