Sterilisasi vs Imunisasi


Saat ini saya tidak membicarakan tentang bakteri maupun virus, tapi saya ingin membicarakan masalah keimanan. Lalu ada apa dengan keimanan? Ingin tahu? Yuk, baca sampai habis artikel ini! ๐Ÿ˜€

Pengantar
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa keimanan tidak dapat diwarisi dari seorang ayah kepada anaknya. Ayahnya ustadz belum tentu anaknya ustadz, begitu juga sebaliknya. Meskipun dasar awal keimanan ditentukan dari keluarga, seperti sebuah hadits yang berbunyi:

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. telah bersabda:

ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽูˆูู„ููˆุฏู ุฅูู„ุงูŽู‘ ูŠููˆู’ู„ูŽุฏู ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽุฉูุŒ ููŽุฃูŽุจูŽูˆูŽุงู‡ู ูŠูู‡ูŽูˆูู‘ุฏูŽุงู†ูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ูŠูู†ูŽุตูู‘ุฑูŽุงู†ูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ูŠูู…ูŽุฌูู‘ุณูŽุงู†ูู‡ูุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ุชูู†ู’ุชูุฌู ุงู„ู’ุจูŽู‡ููŠู’ู…ูŽุฉู ุจูŽู‡ููŠู’ู…ูŽุฉู‹ ุฌูŽู…ู’ุนูŽุงุกูŽ ู‡ูŽู„ู’ ุชูุญูุณูู‘ูˆู†ูŽ ูููŠู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฌูŽุฏู’ุนูŽุงุกูŽุŸ

โ€œTidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?โ€ [1]

Hal penting yang harus digarisbawahi, fitrah manusia adalah beriman kepada Allah swt. Jadi di akhirat tidak ada alasan seseorang tidak beriman hanya dikarenakan dia berasal dari keluarga kafir. Seperti firman Allah swt. yang berbunyi:

“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul, (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”, atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat terdahulu?” (QS Al-A’raaf: 172-173)

Sterilisasi
Kembali ke kata “sterilisasi” dan “imunisasi”. Sterilisasi dalam tulisan ini adalah proses mensterilkan lingkungan agar terhindar dari maksiat. Beberapa contoh sterilisasi dalam kehidupan sehari-hari adalah berteman dengan orang-orang saleh, tinggal di pesantren, maupun memilih tetangga dan lingkungan yang baik. Rasulullah saw. pun membenarkan sikap ini seperti sebuah hadits yang berbunyi:

“Pilihlah tetangga (lihat calon tetangganya atau lingkungannya dulu) sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian).” (HR Al Khatib)

Imunisasi
Imunisasi dalam tulisan ini adalah proses pengimunan agar kebal terhadap maksiat. Imunisasi lebih unggul daripada sterilisasi. Mengapa? Jika hanya sekedar sterilisasi, ketika seseorang keluar dari lingkungan yang steril dari maksiat, belum tentu ia tetap menjadi baik dan jauh dari maksiat. Tak heran jika kita sering mendengar istilah “Mantan Santri” atau “mantan-mantan orang baik” lainnya. Tetapi jika seseorang mempunyai imun yang baik terhadap maksiat, di mana pun ia berada, ia akan tetap dekat dengan Allah.

Kesimpulan
Sebagai manusia yang khilaf dan salah, tentunya sekuat-kuat imun terhadap maksiat pasti akan pudar juga. Untuk itulah mengapa penting juga bagi kita untuk bersama atau dekat dengan orang-orang saleh. Setelah iman kita penuh lagi dan siap untuk berdakwah baik dari sisi ruhiyah maupun fikriyah (keilmuan dan pemahaman), barulah kita menjadi agen-agen pembuat steril dan pemberi imun. #Ilmu-Amal-Ikhlas.

Satu lagi, manusia tidak ada yang sempurna. Santri ataupun ustadz bisa berbuat dosa (apalagi kita). Terpenting adalah selalu bertobat dan memohon ampun saat kita khilaf. ๐Ÿ˜€
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Catatan Kaki
[1]
Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim dalam Kitabul Qadar (no. 2658).

Banyuwangi, 2 Februari 2014
H min 1 presentasi PKLP di TN Alas Purwo

Iklan

6 pemikiran pada “Sterilisasi vs Imunisasi

  1. baru liat blog yusuf lagi, ternyata temanya udah berubah, bagus dan lucu. aku belum bisa nih buat tulisan yang ada sumber-sumber ayat al-quran atau hadistnya, lbih tepatnya belum berani, hehe. kirain mau bahas ttg imun n mekanismenya di dalam tubuh, udah siap2 bahas soalnya biokim dapet mata kuliah ini (imunokimia -the hardest lesson this semester-) hahaha ๐Ÿ˜€

    Suka

    1. Gak salah saya hampir setengah hari ngotak-ngatik wordpress hingga dapet tampilan macam ni, hehe.. Alhamdulillah kalau pengunjung suka tampilannya.. ๐Ÿ˜€
      Hhm.. Saya jg blm berani buat tulisan tentang agama kalau tidak pernah dengar sebelumnya. Saya akui butuh waktu lama untuk bisa posting tulisan terkait agama. Saya harus cek bolak-balik apakah Ayat dan Hadits yang pernah saya dengar itu benar. Surat apa? Ayat berapa? Siapa perawi (periwayat hadits)nya? Apakah matan (isi hadits)nya shahih, hasan, dhoif, maudhu’, atau lainnya?
      Tapi hikmahnya adalah saya akan semakin belajar tentang agama. Dan tentunya setiap postingan, utamanya adalah sebagai nasihat bagi diri sendiri. Alhamdulillah jika bisa menginspirasi yang lainnya.. ๐Ÿ˜€
      Maaf, anda belum beruntung, hehe.. :mrgreen:

      Suka

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s