Autobiografi (1992 – 2013), Bagian 1 #Anak-anak


Warning: Tulisan ini masih dalam tahap revisi. Belum rampung.

BAB I
PRA-KELAHIRAN – PRA-BACA

Ide Nama
Saya adalah anak ke-empat dalam keluarga. Sebelum saya lahir, kakak-kakak saya__yang semuanya perempuan__sangat ingin mempunyai adik laki-laki. Dan sepertinya Allah mengabulkan keinginan mereka. Mereka juga berpesan, “Mi, kalau bayinya laki-laki kasih nama Yusuf ya!” Karena ternyata bayi yang lahir tersebut (saya) adalah laki-laki, akhirnya saya diberi nama “Yusuf Muhammad”.

Kok “Yusuf” dulu baru “Muhammad”? Bila ditanya seperti itu ibu saya akan berkelakar, “Soalnya Nabi Yusuf as. lahir duluan.” Ya, bisa jadi, bisa jadi!! Tapi hal itu sepertinya tidak berlaku bagi adik pertama saya yang bernama “Muhammad Nuh Fadlillah”. Soalnya Nabi Nuh as. kan lahir duluan, tapi nama “Muhammad” tetap berada di awal. -.-a

Sungsang dan Sesar
Kelahiran saya cukup menyedihkan. Karena kondisi saya yang sungsang ketika berada dalam kandungan, akhirnya saya dilahirkan dengan cara sesar. Alhamdulillah itu adalah sesar pertama dan terakhir yang dialami oleh ibu saya, karena setelah saya lahir ibu masih melahirkan dua orang anak. Saya lahir di Jakarta, 31 Agustus 1992.

Kuning dan Sawo Matang
Kulit saya terlihat begitu kuning ketika saya dilahirkan. Menurut ibu, kulit yang terlalu kuning tidak bagus untuk kesehatan dan kecerdasan. Hingga akhirnya demi menghilangkan warna kuning, saya sewaktu bayi dijemur dari pagi hingga kakak saya pulang TK (artinya saya dijemur hingga tengah hari). Bukan sulap bukan sihir, jadilah seluruh tubuh saya berwarna sawo matang (tidak ingin disebut hitam, hehe..).

Tidak Ingin Dipanggil “Mas”
Saya kurang tahu kapan tepatnya kejadian ini berlangsung. Berdasarkan cerita ibu, dulu ketika saya kecil (dan belum bisa mengingat dengan baik), saya ditanya, “Yusuf, kamu mau dipanggil apa?” Saya menjawab, “Abang aja, soalnya kalo Mas itu panggilan buat orang Jawa.” Haha, saya suka tertawa sendiri bila mengingat cerita ini. Meskipun tidak bisa bahasa Jawa, secara genetik sebenarnya saya murni keturunan Jawa. :mrgreen:

Meskipun alasannya agak lucu, tapi ternyata panggilan ini jadi trend center di keluarga besar ibu. Karena saya adalah cucu lelaki pertama eyang (dari ibu) saya, maka panggilan “abang” pada akhirnya juga dipakai untuk hampir semua sepupu lelaki saya yang lahir kemudian. Saat ini ibu saya adalah anak pertama (awalnya ke-dua sebelum kakak beliau meninggal ketika SMA) di keluarga beliau. Eyang meninggal ketika saya tingkat 2 di IPB, sedangkan kakek meninggal jauh sebelum saya lahir.

Terbiasa Tinggal di Rumah Tanpa Abi dan Ummi
Menurut ibu, Abi (panggilan untuk ayah saya) menikahi Ummi (panggilan untuk ibu saya) dalam keadaan belum mempunyai pekerjaan dan tanpa pacaran terlebih dahulu. Mereka menikah karena ingin menyempurnakan agama dan bisa sama-sama berjuang di jalan dakwah. Subhanallah, saya kagum dengan mereka apalagi melihat pacaran saat ini dianggap sebagai hal yang normal dan tidak melanggar agama.

Karena belum mempunyai pekerjaan itulah Abi sering berkeliling mencari nafkah dengan menjual majalah-majalah Islami dari satu halaqoh ke halaqoh yang lainnya. Ingin membantu penghasilan, Ummi saat itu juga sering bepergian meninggalkan rumah mencari tambahan nafkah untuk keluarga. Tinggallah saya hanya berempat di rumah, yaitu bersama kakak Ulya (kakak ke-3), Nuh, dan satu orang khodimah (pembantu). Saat itu adik terakhir saya, Dzakia Fathimah belum lahir dan kedua kakak saya, Fauza dan Sulaim menuntut ilmu di Pesantren Ummul Quro di Bogor.

Pra-baca
Kehidupan pra-baca saya (belum mampu membaca, red.) berlangsung dari sebelum lahir hingga pertengahan kelas dua SD.

Foto saya (depan, kedua dari kanan) dengan sepupu, kakak, teman kakak, dan tetangga sebelah di gang depan pintu rumah.
Foto saya zaman pra-baca (depan, kedua dari kanan) dengan sepupu, kakak, teman kakak, dan tetangga sebelah di gang depan pintu rumah.

BAB II
PRA-BACA – AKHIR SD

Batal Puasa
Pada Ramadhan yang jatuh saat saya kelas dua SD, saya ditantang oleh Ummi untuk puasa seharian penuh (dari Subuh hingga Maghrib). Secara kakak pertama saya sudah bisa puasa penuh sejak beliau masih TK. Hari pertama puasa berlangsung lancar hingga tibalah sore hari saat kami sedang bermain dengan para tetangga. Saya yang haus akhirnya tergoda untuk minum diam-diam dengan alasan ingin ke kamar mandi (padahal ke dapur). Ketika maghrib tiba Ummi memuji, “Wah, Abang keren sudah bisa puasa penuh!” Ups, saya sangat malu saat itu. Meski tidak saya ungkapkan kebohongan saya waktu itu, akhirnya esoknya saya benar-benar puasa penuh hingga penghujung Ramadhan dan tahun-tahun berikutnya.

Kecelakaan-kecelakaan Ketika Kecil
Kecelakaan parah pertama adalah jatuh dari lantai dua dengan kulit robek di sepanjang jari telunjuk kiri disertai pingsan ketika kelas dua SD. Sebelumnya kakak ke-tiga saya juga kecelakaan dan punya sekitar 7 jahitan (saya lupa) di kakinya. Ketika dijahit beliau teriak begitu histeris (padahal cuma lebay). Akhirnya saya trauma dan tak mau dijahit hingga pergi ke sekolah dengan jari yang terlihat daging (dan “kawan-kawan”-nya) yang berwarna merah, hijau, dan biru.

Entah terjadi sebelum itu (robek jari) atau sesudahnya, adalah kecelakaan berupa tersengat listrik. Yusuf kecil saat itu bermain-main dengan kabel dua colokan. Sehingga ketika satu colokan dipasang, maka listrik mengalir ke colokan di ujungnya dan menyerang tangan kanan saya. Rasanya sangat fantastis!! Alhamdulillah saya selamat karena ada yang mendengar jeritan kesakitan saya dan langsung menolong. Hasilnya adalah beberapa bekas luka sengat kecil di telapak kanan yang sukses menghapus sidik jari.

Kecelakaan lainnya adalah terlindas mobil, jatuh dari boncengan sepeda, dan banyak kecelakaan kecil lainnya. Maklum, namanya juga anak SD yang hiperaktif, hehe.. :mrgreen:

Horor di Kolam Renang
“Horor” di sini bukan berarti hantu atau hal-hal gaib lho. Saya lupa kejadian ini kapan tepatnya terjadi. Ketika liburan ke Haurgeulis, keluarga besar ibu mengajak berenang bareng di suatu kolam renang. Saya yang tidak bisa berenang hanya bermain di tepi kolam sambil menyusurinya. Tanpa sadar akhirnya saya “terjatuh” ke bagian kolam yang dalam (bagi saya waktu itu). Tenggelam selama beberapa menit serasa saya akan menemui ajal. Beruntung keluarga saya kemudian sadar dan segera menolong. Sampai sekarang “terkadang” saya fobia terhadap air yang dasarnya tidak terlihat, baik itu laut, danau, sungai, kolam, ataupun sumur.

Suka pada Seorang Gadis
Aneh, jika ditanya kapan pertama kali suka dengan seseorang, saya akan jawab, “Sejak kelas dua SD.” Tapi rasa suka tersebut tidak bertahan lama setelah akhirnya beliau (gadis yang saya suka) pindah sekolah saat kenaikan tingkat ke kelas tiga SD. Dan saya tidak pernah “jatuh cinta” lagi hingga SMA.

Cita-cita
Saat kelas dua saya juga pernah ditanya oleh guru perihal cita-cita. Lalu saya menjawab dengan polos, “Saya ingin menjadi masinis.” Alasannya sangat sederhana, saya begitu menikmati naik kereta ketika ingin mengunjungi kampung halaman ibu di Haurgeulis atau ketika ingin menjenguk kakak-kakak saya yang pesantren di Bogor. Dan Yusuf kecil berpikir jika menjadi masinis, artinya saya bisa menaiki kereta setiap hari dengan gratis.

Pada masa-masa akhir SD, pertanyaan tentang cita-cita kembali muncul meski dari guru yang berbeda. Waktu itu saya memilih ingin menjadi botani ataupun arsitektur. Alasannya masih sederhana. Saya memilih menjadi “botani” karena senang makan buah-buahan dan memilih menjadi “arsitektur” karena terkesan sangat keren (bagi saya).

Gemar Membaca
Sejak berakhirnya masa pra-baca, saya mulai menggandrungi membaca apa saja. Iklan di jalanan, buku pelajaran, koran, majalah, novel, cerpen, komik, ensiklopedia, ataupun semua yang ada tulisannya. Tapi pada akhirnya tidak semua buku saya baca. Saya fokus atau lebih tertarik pada cerita fiksi maupun non-fiksi, ensiklopedia, dan tentunya komik. Buku novel pertama yang saya habiskan adalah novel luar negeri yang berjudul, “Berburu Gajah”. Pada masa-masa ini saya sering menghabiskan hari dengan membaca buku-buku yang terdapat di rumah.

Rajin Menulis dan Membuat Komik
Kegemaran membaca ternyata mempunyai korelasi dengan hobi menulis saya. Karya-karya saya waktu SD adalah coretan-coretan dinding (kalau yang ini sudah dimulai sejak pra-baca, hehe..), novel fabel yang tak pernah tamat (berhenti tengah jalan), komik detektif (terpengaruh komik Detective Conan), dan novel petualangan yang ditulis dengan mesin tik hadiah dari Om.

Mesin Tik dan Ketty
Sebelum ada komputer, mesin tik adalah hal yang mewah bagi kami (anak-anak). Sejak dikirim dari Haurgeulis, saya masih menggunakan mesin tik tersebut hingga SMA. Mesin tik kami juga pernah tampil dalam lomba pameran antar kelas ketika SMA kelas 1. Saat itu mesin tik kami dipakai untuk pajangan replika Surat Proklamasi 17 Agustus 1945 ketikan Sayuti Melik.

Ketty adalah nama kucing yang kami (saya dan kakak ke-tiga) berikan pada seekor kucing kampung betina yang awalnya tidak sengaja masuk rumah. Dari yang awalnya semi-liar hingga menjadi penurut__bahkan bisa terbiasa kencing di WC (tidak kencing sembarangan), SERIUS!! Dia telah melahirkan puluhan anak dalam fase hidupnya hingga akhirnya mati tua ketika saya kuliah. Oh iya, dia sangat senang dengan Abi dan akan bangkit menghampiri setiap kali dia mendengar suara motor Abi pulang. Sebab Abi sering memberi makan dan sudah beberapa kali membantu persalinan ketika Ketty mulai menua.

Kesukaan Lainnya
Kesukaan lainnya ketika kecil selain membaca dan menulis tentunya adalah menonton televisi dan juga bermain. Permainan tradisional yang pernah saya mainkan (selain permainan tradisional umum di 17 Agustus-an) adalah

Televisi
Waktu saya kecil mungkin bisa saja kalian menyebut kami orang kaya karena pernah memiliki empat televisi. Tapi televisi-televisi tersebut sebenarnya gratis. Televisi pertama sudah teronggok di gudang sejak saya masih pra-baca (kalau tidak salah). Televisi dua yang berbentuk seperti rak akhirnya juga rusak setelah beberapa tahun. Televisi ketiga adalah pemberian teman ayah kepada kami. Hitam-putih. Dan kak Ulya adalah penguasa tertinggi (setelah orang tua) pengatur saluran di televisi. Ketika akhirnya rusak, kami pernah mengalami tahun-tahun hidup tanpa televisi. Rasanya cukup asing apabila teman-teman di sekolah membicarakan adegan kartun yang ditonton kemarin.

Pertengkaran Rutin
Selain hobi membaca dan menulis, “hobi” saya yang lainnya ketika kecil adalah bertengkar dengan adik lelaki (Nuh). Motif pertengkarannya sangat beragam. Mungkin ketika kecil terkadang kita lebih mengedepankan egoisme. Tapi inilah dinamika kehidupan anak-anak, penuh dengan canda sekaligus pertengkaran di antara mereka. Sebenarnya selain pertengkaran antara saya dan Nuh masih banyak jaring-jaring pertengkaran saudara di rumah (macam jaring-jaring makanan di alam, hehe..). Sampai saat ini (Januari 2014) pertengkaran antarsaudara di rumah masih terjadi.

“Pertengkaran atau perselisihan tentu hadir karena ada interaksi, sehingga pertengkaran atau perselisihan adalah ‘salah satu’ tanda bahwa sebenarnya di antara mereka (orang-orang yang bertengkar atau berselisih) ada interaksi yang kuat,” Yusuf Muhammad (2014).

“Tetangga yang Berisik”
Disebabkan banyaknya pertengkaran, keadaan di rumah sangat gaduh hampir setiap hari. Tentunya hal ini mengganggu para tetangga yang tinggal di dekat rumah kami. Setiap kali saya dan Nuh membuang sampah di Gober (kuburan China) dan melewati rumah-rumah tetangga, kami akan mendengar orang-orang ‘berbisik’, “Ini nih, anak-anaknya Isun yang berisik tiap hari. Kerjaannya berantem mulu.” Ups, ini sungguh sangat memalukan!! 😦

Tidak Jumatan karena PS
Terhasut oleh tetangga sebelah yang mengajak main PS di rental saat Jumatan. Entah, saat itu godaan setan sangat kuat bahkan hingga saya ikut menghasut adik lelaki saya dan meninggalkan adik perempuan saya sendirian di rumah ketika ibu belum pulang. Pepatah “Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga” benar adanya. Akhirnya saya ketahuan oleh Ummi dan dimarahi habis-habisan karena punya posisi sebagai “terdakwa” yang paling tua. Cukup, saya menyesal dan semoga itu adalah yang terakhir kalinya. 😦

Bisa Mengucapkan Huruf “S” Pertama Kali
Kejadian ini terjadi tepatnya ketika saya kelas empat SD. Bermula dari paksaan Ummi agar saya bisa melafalkan huruf “Sin” dan “Sya” ketika belajar mengaji di suatu malam. Dulu huruf “S” yang keluar dari lidah saya akan terdengar seperti “T” (???). Teman-teman sekelas sangat heboh saat mendengar saya bisa melafalkan huruf “S” esok harinya. Meskipun saat itu masih terbata-bata.

Benci Dipanggil “Ucup”
Semenjak bisa melafalkan huruf “S” entah mengapa pada awal kelas lima SD saya menolak bila dipanggil dengan sebutan “Ucup”. Banyak yang menentang saya pada waktu itu. Jika ditanya mengapa, saya akan jawab entah, saya hanya merasa tidak nyaman lagi dengan sebutan “Cup-Ucup”. Karena bagi saya nama “Yusuf” yang diberikan oleh keluarga saya adalah nama yang sangat mulia dan tidak pantas diubah menjadi “Ucup” ( tidak ada yang namanya “Nabi Ucup” bukan? 😀 ). Karena kegigihan saya mempertahankan (yang saya anggap sebagai) harga diri, pada akhirnya (hampir) semua teman SD saya menerima untuk memanggil saya “Yusuf”, “Suf”, “Yusup”, ataupun “Sup” (saya tidak bermasalah jika “F”-nya tergantikan oleh “P”).

Mungkin karena “Cup, Ucup” bagi saya terkesan pada kata “cupu”. Ada yang bilang “Cup, Ucup” adalah panggilan sayang. Tapi saya menolak, toh, keluarga inti (orang tua, kakak, dan adik) yang (pastinya) sayang dengan saya saja tidak pernah memanggil saya dengan sebutan itu. Karena bagi mereka “Yusuf” atau “Abang” adalah panggilan sayang mereka kepada saya. Sedangkan “Ucup” adalah panggilan yang jelek.

Prestasi
Prestasi saya di SD hanyalah masuk peringkat 10 besar (saya lupa tepatnya) semenjak kelas empat SD hingga lulus. Sudah bisa puasa penuh, sholat, mengaji Al-Qur’an, dan melafalkan huruf “S” sebenarnya juga sebuah prestasi menurut saya. Dan tentunya adalah bisa diterima di Ma’had Al-Kahfi Al-Islamiy, tempat saya menimba ilmu di jenjang berikutnya.

Iklan

14 pemikiran pada “Autobiografi (1992 – 2013), Bagian 1 #Anak-anak

    1. Kalau ma keluarga (abi, ummi, saudara kandung, sepupu, om, tante) sih dipanggilnya “abang”..

      Kalau ma adik kelas ada yang panggil “abang” (biasanya anak Fahutan), tapi kebanyakan sih manggilnya “kakak”..

      Suka

  1. Ping-balik: Mohon Maaf Lahir dan Batin Semua…!! | Muslim Forester

  2. Ping-balik: Kelas Jurnalistik – Antara Kekakuan dan Harapan – Muslim Forester

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s