Hukum Membuka Lahan Baru dan Pencabutan Hak Kepemilikan Tanah


Pengertian Ihya’ Mawaat (Membuka Lahan Baru / Menghidupkan Lahan Mati)
Ihya’ Mawaat (احياء الموات) adalah menggarap tanah yang belum tergarap sehingga layak dan bisa dimanfaatkan untuk tempat tinggal atau bercocok tanam.

Seruan Membuka Lahan Baru

Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ اَحْيَا اَرْضًا مَيِّتَةً فَهِيَ لَهُ

“Barang siapa menghidupkan lahan mati (tidak bertuan), maka tanah tersebut menjadi miliknya.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan Tirmidzi) Tirmidzi berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan.”

Urwah ra. berkata, “Bumi ini adalah milik Allah, dan semua manusia adalah hamba-Nya. Barang siapa menghidupkan tanah mati yang belum tergarap, maka ia berhak atas tanah tersebut. Orang-orang yang menyampaikan ajaran shalat kepada kita juga menyampaikan hadits dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, ‘Barang siapa yang menghidupkan tanah mati, ia mendapatkan pahala karenanya. Dan setiap tanaman yang dimakan oleh hewan unggas, maka itu bernilai sedekah baginya.'” (HR Nasa’i dan telah dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Juga diriwayatkan dari Hasan bin Samurah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa membuat dinding pembatas atas sebidang tanah, maka tanah tersebut adalah miliknya.” (HR Abu Dawud)

Diriwayatkan pula dari Asmar bin Mudharras ra., ia berkata, “Saya menemui Rasulullah saw. kemudian saya bersyahadat di hadapannya. Beliau bersabda, ‘Barang siapa terlebih dahulu melakukan sesuatu (membuka lahan baru) sebelum dilakukan orang lain, maka itu menjadi miliknya.’ Setelah Rasulullah saw. mengumumkan hal itu, semua orang beramai-ramai memagari tanah kosong yang belum dipagari orang lain.”

Syarat Membuka Lahan Baru
Sebuah lahan dianggap mati dan tidak bertuan apabila jauh dari keramaian pemukiman masyarakat, sekiranya tidak terdapat jalan akses atau fasilitas mereka, bahkan tidak ada orang yang mengira bahwa tanah tersebut telah dikelola oleh orang. Untuk mengukur jauh dekatnya sebuah lahan dengan keramaian masyarakat biasanya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.

Izin Resmi dari Pemerintah
Semua ulama fiqih bersepakat bahwa ihya’ mawaat adalah sebab kepemilikan seseorang atas tanah. Tetapi mereka berbeda pendapat apakah ihya’ mawaat disyaratkan harus mendapatkan izin dari pemerintah atau tidak. (Lebih lengkap bisa dibaca di Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq)

Gugurnya Hak atas Lahan Baru dan Pencabutan Hak Kepemilikan Tanah yang Terbengkalai
Apabila tanah yang dimiliki masyarakat terbengkalai dan tidak menghasilkan kemaslahatan publik, maka tanah tersebut boleh diambil.

Diriwayatkan juga dari Thawus ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tanah-tanah yang telah ditinggalkan lama oleh pemiliknya kembali menjadi milik Allah dan Rasul-Nya. Setelah itu, menjadi milik kalian. Maka, barang siapa menghidupkan tanah yang sudah mati, tanah tersebut menjadi miliknya, dan orang yang membuat batasan tanah tidak lagi berhak atas tanah tersebut setelah ditinggalkan (tidak dikelola) selama tiga tahun.”

Menanam di Tanah Suatu Kaum Tanpa Seizin Mereka
Dari Rafi’ bin Khadij ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang menanam di atas tanah suatu kaum tanpa izin mereka, maka ia tidak mempunyai bagian sedikit pun dari tanaman itu. Tetapi ia berhak mendapatkan biayanya (upah).” (HR Ahmad dan Imam Empat, kecuali an-Nasa’i. Hadits ini dinilai hasan oleh at-Tirmidzi, tapi Bukhari menilainya dhaif)

Ketentuan yang berlaku pada masa Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz adalah apabila seseorang menggarap sebuah lahan yang dikira tidak bertuan, kemudian datang seseorang yang membuktikan bahwa tanah tersebut adalah miliknya, maka orang tersebut diberikan dua pilihan: mengambil alih tanahnya dari tangan orang yang menggarap tanahnya, setelah ia memberikan upah atas jerih payahnya, atau ia memindahkan kepemilikan tanah kepada orang yang menggarapnya dengan mengambil ganti harga (tanah).

Dari Urwah bin az-Zubair ra., sesungguhnya seorang sahabat Rasulullah saw. berkata, “Ada dua orang lelaki mengajukan perkara kepada Rasulullah saw. tentang masalah tanah. Salah seorang dari mereka telah menanam kurma di atas tanah milik yang lain. Lalu Rasulullah saw. memutuskan bahwa tanah itu tetap milik yang memilikinya dan beliau menyuruh pemilik kurma itu untuk mencabut pohonnya. Beliau bersabda, ‘Tidak ada hak (hidup) bagi akar yang zalim.’(HR Abu Dawud dan sanad hadits ini hasan)

Literatur:
Al-Hafizh ibnu Hajar Al-Asqalani. 2012. Terjemahan Lengkap Bulughul Maram. Petunjuk Rasulullah dalam Ibadah, Muamalah, dan Akhlak. Jakarta: Akbar Media.

Sabiq S. 2010. Fiqih Sunah. Jakarta: Al-I’tishom

Iklan

7 pemikiran pada “Hukum Membuka Lahan Baru dan Pencabutan Hak Kepemilikan Tanah

    1. Maaf baru balas. Hadits Shohih itu hadits yang sudah bisa dipastikan kebenarannya karena periwayatan haditsnya melalui orang-orang yang sudah dikenal kesalehan dan kejujurannya. Hadits Hasan (secara bahasa, “hasan” artinya “baik”) adalah hadits yang tingkatan ke-shohih-annya berada di bawah “hadits shohih” tapi tetap diakui kebenaran isi hadits tersebut dan boleh dijadikan dalil dalam sebuah hukum. Hadits Dhoif (secara bahasa “dhoif” artinya “lemah”) adalah hadits yang tidak bisa dijadikan dalil suatu hukum karena dalam rangkaian periwayatnya terdapat “perawi” (orang yang meriwayatkan hadits, red.) yang cacat akhlaknya (misal kurang amanah, dll) sehingga kebenaran isi hadits tersebut “agak diragukan” atau “lemah”. Ada yang mengatakan, meskipun Hadits Dhoif tidak bisa dijadikan dalil dalam suatu hukum fiqih dan lainnya, tapi hadits dhoif tetap boleh digunakan untuk dalil-dalil mengenai “keutamaan” dalam suatu amal ibadah. Misal keutamaan shalat malam, keutamaan shalat sunnah sebelum subuh, keutamaan sedekah, dll.

      Tambahan. Yang berbahaya adalah Hadits Maudhu’ (secara bahasa “maudhu'” artinya “palsu”) karena sesuai namanya hadits ini tidak bisa dipercaya kebenarannya. Sekali lagi ini dilihat dari perawinya. Jika dalam rangkaian periwayat terdapat orang yang tidak amanah, suka berbohong, dan cacat akhlak lainnya yang parah, maka hadits tersebut dijadikan hadits palsu. Meskipun yang tahu kebenaran suatu perkataan hanyalah Allah SWT, tapi inilah yang dijadikan sandaran perisai oleh para ahli hadits untuk menyaring hadits-hadits palsu. Semoga Allah merahmati mereka (para ahli hadits), aamiin..

      Sebagai contoh ada kisah seorang ulama (saya lupa namanya siapa) yang ingin mencari sebuah hadits. Ketika sampai di rumah seorang periwayat, beliau melihat bahwa orang tersebut membohongi seekor kucing/kambing (saya lupa, intinya hewan) dengan mengusirnya lewat makanan bohongan (ane rasa ente ngerti maksud ane). Karena “kecacatan” akhlaknya itulah beliau tidak jadi mengambil hadits dari orang tersebut karena meragukan isi hadits yang dibawanya disebabkan akhlaknya yang kurang terpuji.

      Wallahu a’lam bish-showab.

      Suka

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s