Sastrawan dan Tugas yang Terlupakan #Bagian1


jurnal

“Bukankah rangkaian kalimat yang tersusun indah lebih tajam daripada pedang? Bukankah kalimat-kalimat inspiratif mampu menggerakkan manusia? Hanya para penyair yang bisa membunuh tanpa pedang dan mereka juga siap terbunuh demi mempertahankan rentetan kalimat karya mereka.”

Itulah kata-kata dari Dr. Raghib As Sirjani dalam bukunya yang berjudul “Palestina: Kewajiban yang Terlupakan. 1135 Gerakan untuk Membebaskan Palestina.”

Lalu, apa yang saya maksud dengan “Sastrawan dan Tugas yang Terlupakan”? Seperti yang kita ketahui, bahwa kehidupan kita saat ini tak pernah lepas oleh jasa para sastrawan. Film-film, naskah drama, iklan, tulisan-tulisan baik itu berupa puisi, prosa, novel, cerpen, ataupun syair-syair lagu menjadi santapan kita setiap hari. Maka di sana pulalah terdapat tugas mulia seorang sastrawan.

Di mana lewat karyanya, seorang sastrawan mampu bertempur hingga titik darah penghabisan. Bagi seorang penyair sejati, syair-syairnya bukanlah bualan utopis (khalayan, red.) dan setiap bait yang ditulis senafas dengan tindakannya. Karya mereka merupakan catatan perenungan yang dalam tentang realitas kehidupan manusia.

Rasulullah SAW pun mengapresiasi para penyair1, memotivasi mereka untuk membela kehormatan kaum muslimin2, menyindir (mendiskreditkan) para kafir3, dan berjihad dengan lisan4. Maka jadilah seorang sastrawan yang sejati. Tidak hanya melafalkan gombalan-gombalan tanpa ujung, tetapi juga menyiarkan nilai-nilai kehidupan dan keilahan (ketuhanan, red.).

Catatan kaki:

1    Rasulullah SAW meminta Hasan—cucu terkasihnya—berdiri di atas mimbar di dalam masjid. Sang cucu lantas berdiri di atas mimbar lalu berorasi mengungkapkan kebanggaannya atas sang kakek. Rasulullah SAW lalu berujar, “Allah akan menolong Hasan dengan Ruhul Qudus, sesuatu kebanggaan atau tiupan yang tidak diperoleh rasul-Nya.” Hadits riwayat Turmudzi kitab Adab pasal “Apresiasi Penyair” (2846) Abu Yu’la (4746) Imam Hakim (6058).

2    Jabir Ibnu Abdullah meriwayatkan. Tatkala meletus perang Khandaq (multigolongan), para kafir begitu yakin atas kemenangan mereka. Mereka menista dan menghina kaum muslimin. Rasulullah SAW berujar, “Siapa yang siap membela kehormatan kaum muslimin?” Dengan sigap Hasan Ibnu Tsabit berkata, “Saya siap wahai utusan Allah.” Rasulullah SAW lalu berujar, “Ya, lakukan, sindir dan ejek mereka, kau akan ditolong Allah dengan Ruhul Qudus.” Lihat Ibnu Asakir dalam Tarikh ad Damsiq 12/391 hingga 404. Lihat pula Kanzul Ummah 10/444.

3    Hadits riwayat Al Barra’. Rasulullah SAW berujar kepada Hasan, “Sindir atau ejek mereka, Jibril akan bersamamu.” Hadits riwayat Imam Bukhari (3041) Imam Muslim (2486).

4    Hadits riwayat Anas Ibnu Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Berjihadlah melawan orang kafir dan musyrik dengan harta, jiwa raga, dan lisan kalian. Hadits riwayat Abu Daud. Kitab Jihad (2504) Imam Nasai (3096) Imam Ahmad (12268) Imam Hakim (2427).

Iklan

3 pemikiran pada “Sastrawan dan Tugas yang Terlupakan #Bagian1

Silahkan tulis pesan dan kesanmu di sini.. :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s